Connect with us

Nasional

JK Tentang Jihad Keliru: Konsep Ingin Cepat Masuk Surga

Published

on

Ilustrasi

Geosiar.com, Jakarta – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyampaikan awal permasalahan konflik agama yang terjadi di Indonesia. Menurutnya, sumber konflik agama adalah ketidakadilan. JK bercerita, di era Orde Baru, kehidupan beragama relatif harmonis karena kepala daerahnya beragama.

“Karena dulu semua daerah yang seimbang hampir seimbang agamanya, Islam dan Kristen di sini. Zaman orde baru berjalan dengan baik kalau gubernurnya Kristen wakilnya Islam atau wakilnya Islam gubernurnya Kristen,” ujar JK saat memberikan pengarahan ke Kepala Satuan Wilayah Kepolisian di Gedung PTIK, Jakarta Selatan, Jumat (4/5/2018).

Proses demokrasi mengambil alih tatanan bernegara setelah orde baru tumbang. Sehingga tidak ada lagi pembagian seimbang terutama di kalangan pemimpin. Maka terjadilah perubahan, yang awalnya konflik politik sekejap menjadi konflik agama.

“Setelah demokrasi yang menentukan suara terbanyak. The winner get all. Maka terjadilah ketidaksenangan pada saat penyusunan gubernur dan bupati di daerah itu,” ungkapnya.

Kemudian ada pemikiran-pemikiean yang ditularkan ke masing-masing umat atau pendukung agama bahwa membunuh lawan atau membakar tempat ibadah akan mendapat jaminan masuk surga.

JK lalu menyinggung konsep jihad yang kerap dipraktikkan oleh para teroris baik di Indonesia maupun di negara lain.

“Itu konsep jihad yang keliru yang terjadi di dunia ini. Bukan hanya di Indonesia. Bukan uang karena dia mati, bukan mencari jabatan karena dia mati. Dia cari apa? Orang bunuh diri itu cari surga. Dia ingin masuk surga secara cepat,” jelasnya.

Akibat dari konflik agama tersebut, sebut JK, banyak menimbulkan korban dan nyawa hilang sia-sia. Ia mencontohkan, di Ambon dalam waktu dua tahun konflik agama membuat sekitar 5.000 orang meninggal dunia. Lalu, di Aceh konflik yang memakan korban hingga 15.000 orang.

“Konflik didasari pemikiran yang keliru dari sisi agama. Oleh sebab itulah maka ada timbul ketidakamanan dan ketidaktertiban yang paling baik dari segi agama,” jelasnya. (yl)