Connect with us

Nasional

NU: Jenazah Koruptor Tidak Boleh Disalatkan

Published

on

Intelektual Muda Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi. (indonesiakoran.com)

Geosiar.com, Jakarta – Zuhairi Misrawi selaku Intelektual Muda Nahdlatul Ulama mengungkapkan bahwa tidak mensalatkan jenazah seorang koruptor merupakan keputusan keagamaan NU yang harus ditaati pengurus dan anggota NU.

“Itu merupakan keputusan keagamaan NU, sudah lama, bahwa koruptor tidak disolati karena korupsi termasuk dosa besar, menyengsarakan orang banyak,” kata jebolan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu, Jumat (28/4/2018).

Penjelasan itu terkait komentar Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo yang memuji sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk tidak mensalatkan jenazah koruptor. Sikap tersebut, menurut Agus, akan turut mendorong pencegahan praktik korupsi.

“PBNU telah menyatakan tak akan salatkan jenazah koruptor,” kata Agus dalam Kuliah Umum Pendidikan Atikorupsi di ITB, Jalan Ganeca, Bandung, Rabu (25/4/2018) lalu.

Sikap PBNU tersebut, jelas Agus, mengacu pada Hadis Riwayat tentang Perang Khaibar. Saat perang itu usai, Nabi Muhammad SAW tidak mensalatkan jenazah seorang sahabat yang gugur karena telah mengambil barang yang bukan haknya dari hasil pampasan perang.

“Rasul begitu keras pada penggelapan,” ungkap Agus. Sehingga Agus menilai, suatu harta benda dapat menjadi haram jika alat yang digunakan untuk mendapatkannya berasal dari yang bukan miliknya.

Daging babi haram, kita kan tidak mau. Kalau income, pendapatannya, haram bagaimana? Korupsi, income-nya mencuri,” katanya.

Ia mengatakan bahwa pendapatan yang didapat dari korupsi perlu disikapi tegas oleh ahli agama. Contohnya adalah memanipulasi timbangan, seperti korupsi di bidang infrastruktur di mana terdapat praktik mencampur semen merek murah dengan semen merek mahal untuk mengejar selisih harga sebagai keuntungannya. (yl)