Connect with us

Nasional

Setnov Minta Majelis Hakim Berikan Vonis yang Adil dan Ringan

Published

on

Mantan Ketua DPR Setya Novanto. (tribunnews.com)

Geosiar.com, Jakarta – Mantan Ketua DPR Setya Novanto akan menghadapi sidang putusan atas kasus korupsi proyek e-KTP. Pengacara Setya Novanto, Firman Wijaya, berharap majelis hakim bisa memberikan putusan yang adil dan bijaksana.

“Kami menunggu putusan dari majelis hakim, kami berharap ada judicial wisdom dari putusan majelis yang dipimpin Pak Yanto, kami harap bijaksana,” ujar Firman di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (24/4/2018).

Firman mengatakan pada hari ini kondisi Setya Novanto dalam keadaan sehat. Setya Novanto kali ini didampingi oleh tim pengacara dan beberapa rekannya. Ia berharap majelis hakim mempertimbangkan nota pembelaan yang telah diserahkan Setya Novanto. Terkait status justice collaborator, Firman menjelaskan akan menunggu putusan majelis hakim.

Maqdir Ismai, Pengacara Setya Novanto lainnya, mengatakan akan berdiskusi dengan kliennya usai hakim memberikan putusan. Ia belum memastikan mengambil langkah hukum apa usai vonis tersebut.

“Apapun nanti hasil putusan itu tentu kami akan diskusikan secara baik. Apalagi kan kekuatan hukum memungkinkan, baik pihak kami maupun pihak jaksa berpikir selama satu pekan akan bersikap seperti apa terhadap putusan itu,” kata Maqdir.

Sementara itu, Setya Novanto hanya bisa memasrahkan keputusan vonisnya kepada majelis hakim.

“Kita serahkan kepada hakim. Semoga diberikan putusan seadil-adilnya. Dan serahkan kepada Allah SWT,” ucap Setya Novanto di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Saat ditanya soal apakah akan mengajukan banding, Setya Novanto enggan menjawabnya. Ia hanya menyebut, akan melihat hasil vonis hakim terlebih dahulu.

Sebelumnya, Novanto dituntut hukuman 16 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar, subsider 6 bulan kurungan. Jaksa meyakini Novanto terlibat dalam kasus tersebut dengan peran mengintervensi anggaran proyek tersebut.

Selain itu, Novanto juga diyakini menerima aliran uang dengan total USD 7,3 juta dari proyek itu. Uang itu disebut jaksa mengalir ke Novanto melalui keponakannya, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, sebesar USD 3,5 juta, dan melalui orang dekatnya, Made Oka Masagung, sejumlah USD 1,8 juta dan USD 2 juta yang diberikan melalui perusahaan Made Oka Masagung. (yl)