Connect with us

Daerah

Kepada Hariyanto Arbi, Mbah Paring Mengaku Dianiaya 2 Preman

Published

on

Mantan pemain bulutangkis Haryanto Arbi menengok Mbah Paring yang viral di media sosial karena dianiaya 2 preman. (wawasan.co)

Geosiar.com, Semarang – Kakek penjual celengan Mbah Paring (95), asal Demak Jawa Tengah dianiaya oleh 2 preman. Mbah Paring menderita luka robek di bagian pelipis. Sesaat setelah peristiwa itu, foto-foto mbah Paring beredar di media sosial dan menimbulkan banyak simpati.

Salah satu senior pebulu tangkis asal Kudus, Hariyanto Arbi mengatakan mengetahui kisah mbah Paring dari media sosial, dan dirinya langsung menjumpai Mbah Paring yang berada di Desa Kedung Waru Kidul, Kecamatan Karang Anyar, Demak, Jawa Tengah.

“Saya kemarin kebetulan lagi ada di Kudus, jadi sekalian cari tahu tentang Mbah Paring,” ujar Hariyanto saat dihubungi wartawan, Selasa (24/4/2018).

Pria kelahiran 1972 itu mengaku sempat mendapat berita simpang siur tentang Mbah Paring. Ada yang menyebut luka yang diderita Mbah paring karena dianiaya preman, ada juga yang bilang terjatuh saat berjualan, bahkan ada yang bilang dieksploitasi anaknya.

“Ya sudah karena simpang siur, saya nanya kiri kanan, nanya alamat rumahnya, akhirnya ketemu sama Mbah Paring,” tuturnya.

Kata Hariyanto, berdasarkan pengakuan Mbah Paring, Mbah dianiaya oleh dua orang preman tanpa sebab, saat ia sedang berada di pasar untuk berjualan celengan. Kini luka tersebut sudah ditangani oleh petugas kesehatan yang berada dekat rumahnya.

“Motif preman mukul Mbah Paring tidak tahu karena apa, dan karena sudah sepuh beliau juga engga tahu bentukan premannya tersebut seperti apa,” ungkapnya.

Tapi Hariyanto tidak membenarkan informasi yang menyatakan Mbah Paring di eksploitasi anak dan cucu. Menurutnya anak Mbah Paring sudah meninggal dunia, dan dia hanya hidup bersama istrinya. Sedangkan cucunya bekerja menjadi kuli bangunan.

“Cucunya sudah minta si mbah untuk berhenti bekerja namun katanya beliau tidak mau,” ucapnya.

Hariyanto mengaku banyak mendapatkan pelajaran hidup dari Mbah Paring yang telah menginjak usia 95 tahun namun masih semangat dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluaganya.

“Beliau cerita perjuangannya mencari rejeki agar bisa menghidupi dirinya dan istrinya (Aminah) yang mengalami kelumpuhan seiring penyakit stroke yang menyerangnya beberapa tahun lalu,” ujarnya.

Mbah Paring bertahan hidup dari hasil usahanya berjualan celengan. Hariyanto menyebutkan setiap hari Mbah paring menjual celengannya Rp30 ribu. Namun ada juga pembeli yang membayar Rp 50 ribu. (yl)