Connect with us

Kriminal

Melawan, Polisi Tembak Mati Otak Pembobol ATM di Tambora

Published

on

Ilustrasi

Geosiar.com, Jakarta – Polres Jakarta Barat menangkap otak kejahatan dengan modus mengganjal ATM, JA alias JN. Pelaku dibekuk di kawasan Jembatan Besi V Tambora, Jakarta Barat, pada Senin dini hari tadi.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edy Suranta Sitepu mengatakan, tindak tegas yang dilakukan pihaknya setelah pelaku melakukan perlawanan saat ditangkap. Kala itu pelaku mencoba meletuskan pistolnya ke polisi. Pelaku pembobol ATM itu masih hidup meski sudah ditembak. Hingga akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

“Namun nyawa JA tak tertolong hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Tersangka ini kehabisan darah saat dilarikan ke rumah sakit,” ujarnya.

Atas pengungkapan kasus ini, polisi menyita barang bukti berupa satu buah senjata api jenis FN, lima buah peluru kaliber 8 mm, satu buah bong sabu, 90 Kartu ATM berbagai jenis, satu unit HP Samsung, dan satu buah dompet milik pelaku.

Petugas Polres Metro Jakarta Barat sebelumnya menciduk tujuh tersangka sindikat pembobol dana nasabah bank melalui mesin ATM bermoduskan ganjal kartu. Mereka melakukan aksinya dengan mengganjal lubang akses kartu secara konvensional menggunakan tusuk gigi.

Ketika nasabah kesulitan mengeluarkan kartu, salah satu pelaku menawarkan pertolongan untuk mengeluarkan kartu ATM. Disaat itulah, pelaku melancarkan aksinya dengan mengelabui korban menggunakan kartu ATM lain dan mengingat nomor rahasia (PIN) untuk mengambil uang tarik tunai.

Kanit Krimum, AKP Rulian Syauri menambahkan saat polisi menggrebeknya, JA tengah berupaya untuk merekrut anggota baru, beberapa orang pun telah ia ajarkan untuk modus tusuk gigi ganjal ATM.

“Dia ini otaknya menajarkan orang, hingga akhirnya berbuat jahat,” ucap Rulian.

Sebelum beraksi, JA selalu meminta anggota kelompok untuk mentato bagian tubuh mereka dengan gambar iblis. Cara ini untuk mengetahui dan mencirikan anggota ini dengan kelompok lain.

Walau demikian, saat melancarkan aksinya, kelompok ini selalu berlagak parlente, dengan berpakaian rapih dan menutupi tatonya.(yl)