Connect with us

Dunia

ISIS Serukan Akan Serang Arab, Mesir, Iran, Hingga Palestina

Published

on

ISIS (rusvesna.su)

Geosiar.com, Washington – Kelompok Islamic State of Iraq and the Levant (ISIS) kembali menyerukan para pejuangnya untuk menyerang negara-negara Arab yang mereka anggap sebagai ‘negara murtad’ termasuk negara Palestina, Iran, dan Mesir.

Melalui rekaman suara berdurasi beberapa jam, juru bicara ISIS, Abu Hassan Al-Muhajir, meminta seluruh anggota kelompok teroris itu untuk mencurahkan amarah terhadap pemimpin negara Arab. Hasutan ini telah menyebar melalui aplikasi pesan Telegram.

Al-Muhajir juga menyerukan pejuang ISIS untuk lebih banyak membunuh umat Muslim, tidak hanya Syiah yang dianggap sesat, tapi juga kaum Sunni.

Itu merupakan pernyataan hasutan pertama ISIS dalam sebulan sepuluh bulan terakhir setelah kelompok tersebut mengalami banyak kekalahan di Irak dan Suriah. Negara-negara Arab dijadikan target karena kelompok itu ingin fokus berperang di ‘dekat rumah’.

“Tidak ada perbedaan antara memerangi para pemimpin Arab Saudi, Mesir, Iran, dan Palestina dengan sekutu Tentara Salib Amerika, atau Rusia atau Eropa,” kata Muhahir dalam pesan audio mirip pidato yang berdurasi beberapa jam.

Menurutnya, para pemimpin Arab telah ‘murtad’ dan pantas diperlakukan lebih keras lagi.

“Ini adalah Arab dan lebih ganas terhadap Islam,” ujar Muhajir.

Dalam rekaman itu, ISIS juga menyerukan serangan terhadap Irak yang akan melangsungkan pemilihan umum pada 12 Mei mendatang. Al-Muhajir mengatakan siapa saja yang bekerja sama dengan pemerintah Irak akan menjadi target serangan kelompoknya.

“Tempat-tempat pemungutan suara dan orang-orang di dalamnya menjadi target pedang kami. Jadi menjauhlah, jangan mendekati tempat-tempat itu,” kata Al-Muhajir.

Dia juga mengejek Presiden AS Donald Trump. Al-Muhajir menyebut Amerika kehilangan pengaruhnya di bawah kekuasaan Trump, meski tak menyebut presiden ke-45 itu secara langsung.

“Lihatlah kalian Amerika, kalian penjahat yang sedang bingung dan tersesat dengan tujuan-tujuanmu yang berantakan. Kalian sekarang dipaksa untuk mengemis dan mengikuti keinginan musuh,” ucap Al-Muhajir merujuk pada kedekatan AS dan Rusia.

Seorang peneliti di Tahrir Institute for Middle East Policy Hassan Hassan, mengatakan pidato itu sejalan dengan evolusi terbaru kelompok tersebut.

“Hal ini selaras dengan gerakan ISIS baru-baru ini, untuk menjadi lebih internal,” katanya dalam serangkaian tweet yang dikutip New York Times, Senin (23/4/2018).

Pada awalnya ISIS merupakan kelompok afiliasi Al-Qaidah di Irak. Tapi, pada akhirnya kelompok ini berseberangan dengan Al-Qaidah dan mendirikan ‘kekhalifahan’ pada tahun 2014 dengan wilayah di sebagian Irak dan Suriah yang mereka duduki.

Al Qaidah menyerukan serangan yang berfokus mengusir pasukan AS dari Irak. Al Qaidah juga meminta anggota dan afiliasinya untuk menunda penyerangan terhadap negara Arab sampai tentara AS terusir sepenuhnya dari Irak. Namun, ISIS memberontak dan mengabaikan seruan Al Qaidah. Pada 2014, ISIS pun mendeklarasikan negara khilafahnya dengan merebut wilayah sebesar negara Inggris di Irak dan Suriah.

Sejak saat itu, ISIS secara agresif meluncurkan propaganda dan terornya ke seluruh dunia, seperti Eropa, Timur Tengah, hingga benua Asia.(yl)