Connect with us

Nasional

Menteri Yohana: Tak Perlu Pakai Kekerasan untuk Disiplinkan Anak

Published

on

Menteri Yohana Yembise. (nusantaranews.co)

Geosiar.com, Jakarta – Baru-baru ini beredar video di media sosial seorang guru pria menampar seorang siswa SMK di Purwokerto. Menanggapi hal itu, menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengatakan masih banyak cara untuk mendidik anak tanpa kekerasan. Yohana sangat menyayangkan peristiwa itu.

“Saya sangat menyayangkan peristiwa itu (penamparan kepada siswa SMK di Purwokerto). Apalagi kasus ini dilakukan oleh seorang tenaga pendidik, yang seharusnya justru membimbing, mengayomi, dan mendidik anak muridnya,” kata Yohana dalam keterangannya, Jumat (20/4/2018).

Yohana mengatakan, setiap guru seharusnya mengerti bahwa kekerasan yang dilakukan kepada anak tidak akan banyak berdampak pada perbaikan kedisiplinan siswa. Apalagi ada undang-undang yang mengatur sanksi berat bagi para pelakunya.

Hal itu tertuang pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, mempertegas pemberatan sanksi pidana dan denda bagi pelaku kekerasan terhadap anak.

Pada Pasal 54 jelas dinyatakan bahwa Anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidikan wajib mendapatkan perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, sesama peserta didik atau pihak lainnya, maka kejadian ini harus ditindak tegas agar tidak terulang.

“Guru diperbolehkan untuk mendisiplinkan siswa di sekolah dengan menerapkan disiplin yang positif, tidak dengan cara-cara kekerasan,” ujar dia.

Peran orang tua juga sangat penting untuk memperhatikan keadaan anak dan membimbing anak untuk disiplin dan menghormati guru. Kemen PPPA juga telah melatih ratusan tenaga pendidik di beberapa kabupaten/kota mengenai disiplin positif untuk mencegah kasus serupa dan untuk mendukung tumbuh kembang anak.

“Saya harap semua orang dewasa dapat menerapkan disiplin positif ketika berinteraksi dengan anak, terutama tenaga pendidik di sekolah. Orang dewasa harus menjadi teladan bagi anak,” tutup Yohana. (yl)