Connect with us

Nasional

Polisi Gerebek Rumah Pembuatan Miras Oplosan di Bandung

Published

on

Polisi melakukan penggeledahan rumah pembuatan miras oplosan di Bandung. (kompas.com)

Geosiar.com, Bandung – Pihak kepolisian berhasil menggerebek sebuah rumah di wilayah Cicalengka, Kabupaten Bandung Barat yang disinyalir menjadi tempat pembuatan Minuman Keras (Miras) oplosan.

Rumah yang berada tepat di pinggir Jalan Raya Bandung-Garut itu tampak berbeda dibanding rumah-rumah yang ada di sekitarnya. Saat digeledah, rumah tiga lantai itu memiliki garasi berukuran besar dan dua kolam renang.

Di samping kolam renang terdapat satu gazebo berukuran 5×2 meter. Di bawah gazebo ditemukan ruangan atau bunker seluas 25 meter persegi dengan tinggi 3,5 meter. Untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, gazebo harus didorong terlebih dahulu. Dalam bunker tersebut didapati sejumlah ruang yang digunakan untuk meracik dan menyimpan bahan baku miras seperti alkohol dalam jeriken, zat pewarna, dan berbungkus-bungkus minuman penambah stamina.

“Kapolda Jawa Barat sudah ke TKP dan menemukan ada bungker atau ruang bawah tanah pembuatan miras,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di Stadion GBK, Jakarta Selatan, Jumat (13/4/2018).

Setyo mengaku belum bisa memastikan sejak kapan bungker itu digunakan untuk membuat miras. Dugaan sementara, miras yang diedarkan dari bungker itu masih di sekitar Jawa Barat.

“Masih sedang diteliti sejauh mana dia menyebarkan tapi yang jelas itu di wilayah Kabupaten Bandung,” ucap Setyo.

Di samping itu, Setyo memastikan bungker itu dalam sehari dapat memproduksi miras dengan jumlah yang banyak. Sebab, miras itu dikemas dalam botol-botol secara rapi.

“Produksi cukup besar karena mereka gunakan botol untuk kemas miras itu,” ujar Setyo.

Setyo juga memastikan polisi akan menindak tegas para pembuat dan penjual miras oplosan. Hal itu sesuai dengan perintah Wakapolri Komjen Syafruddin yang meminta para penjual miras oplosan diberikan hukuman maksimal.

“Kita sedang merancang karena terbukti mengakibatkan korban meninggal dunia. Kita kenakan UU Pangan nomor 18 tahun 2012 dengan ancaman seumur hidup,” ucap Setyo. (yl)