Connect with us

Nasional

Ahli Paparkan 3 Pola Pencucian Uang yang Dilakukan Bos First Travel

Published

on

Terdakwa kasus dugaan penipuan dan penggelapan biro perjalanan umrah First Travel, Direktur Utama Andika Surachman (kiri), Direktur Anniesa Hasibuan (kedua kanan), dan Direktur Keuangan Kiki Hasibuan (kedua kiri) menjalani sidang dengan agenda keterangan saksi dari JPU di Pengadilan Negeri Kota Depok, Jawa Barat, (5/3/2018). (beritasatu.com)

Geosiar.com, Depok – Muhammad Novian selaku Ketua Kelompok Advokasi Direktorat Hukum Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), bersaksi sebagai ahli dalam sidang kasus penipuan umrah First Travel.

Novian memaparkan 3 pola pencucian uang yang digunakan ketiga terdakwa bos First Travel itu.

“Pola pertama adalah dengan placement (penempatan), yakni perbankan digunakan sebagai alat pencucian uang. Kedua, layering (pelapisan), yakni pelaku bertransaksi sedemikian rupa agar asal usul uang tidak diketahui. Ketiga, pola integritas. Pola ini dipraktikkan oleh pelaku pencucian uang dengan mencampur atau mendirikan perusahaan lain yang sah atau dibelanjakannya hasil Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) untuk aset atau keperluan pribadinya,” tutur Novian dalam kesaksiannya sebagai ahli di Pengadilam Negeri Depok, Rabu (11/4/2018).

Kemudian Jaksa Penuntut Umum (JPU), L Tambunan mempertanyakan kepada ahli terkait pencucian uang dengan menarik tunai uang. Novian mengatakan bahwa ada banyak risiko yang muncul bila pencucian uang dilakukan dengan cara menarik tunai uang dari bank.

“Kalau ada transaksi tunai dari sisi risiko itu pertama kena biaya administrasi. Belum lagi kalau dia bisa dirampok atau takut dihutangi,” jelas Novian.

“Kalau tarik tunai itu untuk memutus mata rantai transaksi sehingga tidak terlihat lagi, dan tujuan pelaku itu agar asal usulnya tidak ketahuan dengan cara melakukan transaksi tarik tunai. Begitu kalau dilihat dari kacamata TPPU, ” lanjut dia.

Selanjutnya jaksa meminta penjelasan Novian terkait syarat seseorang bisa dikenakan tindak pidana pencucian uang.

“Konstruksi hukum dalam tindak pidana pencucian uang cukup dengan diduga mengisyaratkan pelanggaran tindak pidana pencucian uang secara batin sudah cukup,” kata Novian.

Novian juga  menyebutkan bahwa terdakwa memindahkan sejumlah uang dari rekening pribadi ke rekening perusahaan yang merupakan rekening penampungan.

“Tadi diilustrasikan ada pelaku yang melakukan penipuan di mana hasil itu ditampung ke rekening perusahaan, kami lihat sikap batin pelaku justru memanfatkan hukum artinya andai saja pelaku memakai rekening pribadinya pihak bank akan curiga. Tapi kalau dia memakai rekening perusahaan bank tidak akan curiga,” ucap Novian.

Seperti yang dikabarkan, First Travel gagal memberangkatkan 63.310 calon jemaah umrah pergi ke Tanah Suci. Sehingga calon jemaah mengalami kerugian sebesar Rp 905 miliar.

Andika Surachman, Anniesa Hasibuan, dan Kiki Hasibuan dijatuhi hukuman Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP Junto Pasal 55 KUHP, Pasal 3 dan Pasal 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). (yl)