Connect with us

Dunia

Polisi Kawal Ketat Mark Zuckerberg Menuju Parlemen AS

Published

on

Mark Zuckerberg menghadap parlemen Amerika Serikat dengan dikawal polisi pada Senin (9/4/2018) waktu setempat. (nytimes.com)

Geosiar.com, Washington – CEO Facebook Mark Zuckerberg memenuhi komitmennya untuk menghadap parlemen Amerika Serikat pada hari Senin (9/4/2018) waktu setempat. Dengan menggunakan jas resmi, ia meninggalkan kaos abu-abu dan celana jeans yang selalu menjadi ciri khasnya.

Zuckerberg akan ditanyai soal isu kebocoran data yang menimpa 87 juta pengguna Facebook, yang disalahgunakan oleh perusahaan Cambridge Analytica. Kemudian mungkin juga terkait operasi Rusia yang diyakini turut mempengaruhi Pilpres AS tahun 2016 lewat Facebook.

“Kami tidak mengambil pandangan lebih luas soal tanggung jawab kami dan itu adalah kesalahan besar. Itu adalah kesalahan saya dan saya meminta maaf,” demikian pernyataan tertulisnya pada parlemen.

Kalau pendiri Facebook itu tidak memberikan jawaban memuaskan pada Konggres, kemungkinan Facebook akan dikenakan regulasi lebih ketat soal perlindungan data user. Hal tersebut berpotensi membuat Facebook kehilangan cukup banyak iklan.

Zuckerberg tiba pada hari Senin waktu setempat di Capitol Hill, gedung parlemen AS yang berada di Washington. Dia dikawal oleh polisi dan diserbu wartawan, walau dia tak mengucap sepatah kata pun pada mereka. Zuck bertemu senator top dari Partai Republik dan Partai Demokrat yang akan menanyainya pada pertemuan bersama pada hari Selasa waktu setempat.

Di samping itu, pada hari Rabu seperti dikutip Geosiar.com dari Reuters, pria berusia 33 tahun ini akan ditanyai lebih lanjut oleh House Energy and Commerce Committee.

“Pesan yang ingin aku sampaikan padanya adalah bahwa jika kita tidak mengendalikan penggunaan media sosial, tidak ada satupun dari kita yang akan memiliki privasi lagi,” tandas senator Bill Nelson dari Partai Demokrat setelah bertemu dengan Zuck.

Selain masalah pencurian data, Zuck diprediksi akan ditanyai soal Pilpres 2016. Dalam pernyataan tertulisnya ke Parlemen, Zuck mengakui bahwa pihaknya tidak berbuat cukup banyak dalam mencegah campur tangan pihak asing melalui situsnya.

“Jelas bahwa kami tidak berbuat cukup untuk mencegah tool itu digunakan untuk merusak. Dari berita palsu, campur tangan asing di pemilu, ujaran kebencian dan juga privasi data,” tulis Zuckerberg. (yl)