Connect with us

Nasional

Indonesia Urutan Ketiga Teratas Kebocoran Data Facebook

Published

on

Ilustrasi

Geosiar.com, Jakarta – Dikabarkan Indonesia berada di urutan ketiga teratas yang mengalami kebocoran data pengguna Facebook oleh Cambridge Analytic setelah Amerika Serikat dan Filipina.

Tercatat, pada laporan terbaru yang diungkap Facebook dari 87 juta pengguna yang datanya diambil Cambridge, 1.096.666 atau 1,3% di antaranya dari Indonesia.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara telah berkomunikasi dengan Facebook terkait kebocoran data sebagian penggunanya ke perusahaan pihak ketiga bernama Cambridge Analytica.

Berdasarkan komunikasi tersebut, Rudiantara menuturkan ada data pengguna Facebook di Indonesia yang ikut bocor ke Cambridge. Pemerintah pun akan langsung memanggil Facebook untuk meminta penjelasan lebih lanjut.

“Ada indikasi, ada data user di kita (yang bocor ke Cambridge Analytica). Hari ini ada informasi bahwa sejutaan data user kita masuk (bocor),” ujar Rudiantara di Kompleks Istana Presiden, Jakarta, Kamis (5/4/2018).

Pengamat Media Sosial Abang Edwin Syarif Agustin mengatakan, data pengguna yang bocor bisa dimanfaatkan untuk apapun, tergantung pihak mana yang menggunakannya.

“Data pengguna yang bocor itu mungkin dianalisis segmentasi psikografisnya orang Indonesia. Jadi tergantung pihak yang mengambil, mau menggunakannya untuk apa,” ujarnya Kamis (5/4/2018).

Sebagai contoh, Edwin melanjutkan, bila perusahaan konsultan politik dan analisis data Cambrige analytica yang menggunakannya, data-data tersebut bisa dimanfaatkan untuk mengubah mindset orang agar mereka bisa memilih (calon presiden, misalnya) sesuai keinginan si penganalisis data.

“Kalau kasusnya terjadi saat pemilihan umum (pemilu) berlangsung, saya lihat demokrasinya yang dipermainkan. Itu sama saja dengan demokrasi AS yang dipermainkan,” ucapnya.

Dia berkata selain Facebook, kemungkinan perusahaan digital lain melakukan pola serupa. Misalnya saat seseorang memutuskan untuk membuka akun media sosial, mereka diminta untuk memasukkan data dan kemudian saat menggunakan layanan muncul iklan-iklan yang sesuai dengan ketertarikan pengguna.

“Kenapa iklannya bisa sesuai? Itu artinya mereka (penyedia layanan) mempelajari kebiasaan pengguna dan kita tidak sadar dengan itu,” imbuh Erwin memaparkan.

Artinya, Erwin menegaskan, bukan hanya Facebook yang memiliki data dan bisa menganalisis data pengguna untuk berbagai tujuan. “Ini praktik yang umum di industri digital advertising,” tandasnya.

Negara-negara lain dalam daftar lokasi kebocoran data pengguna Facebook termasuk Inggris, Meksiko, Kanada, India, Brasil, Vietnam, dan Australia yang masing-masing paling tidak mencatat angka ratusan ribu. Kendati demikian, pihak Facebook mengatakan tidak mengetahui persis data apa saja yang dibocorkan ke Cambridge Analytica. Jumlah pengguna dalam grafik di atas merupakan perkiraan yang dinilai terbaik untuk mencakup angka maksimal dari akun yang terdampak. (yl)