Connect with us

Kriminal

Jaksa Tuntut Pembakar Maling Ampli Minimal 10 Tahun Penjara

Published

on

Suasana persidangan kasus pembakaran almarhum Zoya yang dituduh mencuri ampli musala di Bekasi, Selasa (3/4/2018). (merdeka.com)

Geosiar.com, Bekasi – Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Kabupaten Bekasi, menuntut enam terdakwa kasus pengeroyokan dan pembakaran pencuri amplifier Muhammad Al Zahra alias Zoya dengan hukuman penjara minimal 10  tahun.

“Kami mengajukan penuntutan berdasarkan fakta-fakta persidangan,” kata anggota jaksa penuntut umum, Muhammad Ibdu Fajar, seusai persidangan, Selasa, (3/4/2018).

Enam terdakwa dalam perkara ini adalah Rosadih, Ali Alvian alias Bin Saryono, Zulkafli Alkausari alias Marzuki, Karta alias Sabra, Najibulloh, dan Subur alias Jek. Jaksa menuntut hukuman 11 tahun untuk empat terdakwa, yaitu Ali, Zulkafli, Najibulloh, dan Subur. Sedangkan Rosadih dituntut 12 tahun dan Karta 10 tahun.

Dalam penuntutannya, Jaksa Penuntut menggunakan pasal 170 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Ibdu mengatakan, berdasarkan hasil analisis alat bukti selama persidangan, penuntut umum menemukan fakta bahwa para terdakwa memiliki andil dalam penganiayaan terhadap Muhammad Al Zahra alias Zoya, pria yang diduga mencuri amplifier musala.

Ibdu menegaskan persidangan ini sekaligus menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak melakukan tindakan main hakim sendiri.

“Kepada masyarakat Indonesia, persidangan ini menjadi pembelajaran, bahwa di negara hukum, tidak diperbolehkan perbuatan main hakim sendiri,” kata dia.

Peristiwa miris itu terjadi pada Selasa, 1 Agustus 2017 silam. Saat itu, Zoya yang bekerja sebagai tukang servis amplifier ini dituduh mengambil amplifier di sebuah musala Al Hidayah yang berada di Kampung Muara Bakti, Bekasi, Jawa Barat. Setelah dikeroyok tak berdaya, pria 30 tahun itu pun dibakar hidup-hidup hingga akhirnya meregang nyawa. (yl)