Connect with us

Sumut

Medan Segera Wujudkan Sistim Transportasi LRT dan BRT

Published

on

Medan, Geosiar.com – Wakil Wali Kota Medan  Ir H Akhyar Nasution MSi menyampaikan jika Pemko Medan saat ini tengah mempersiapkan Proyek Light Rail Transit (LRT) dan  Bus Rapid Transit (BRT) sebagai transport massal di Kota Medan. Pilihan ini didasarkan dengan kondisi jalan yang sempit di ibukota Provinsi Sumatera Utara ini. Disamping itu biaya lebih ekonomis dibandingkan dengan penggunaan Mass Rapid Transit (MRT).

                Menurut Wakil Wali Kota, kemungkinan MRT akan dioperasikan sebagai transport yang akan melayani Mebidangro (Medan, Binjai, Deli Serdang dan Tanah Karo). Kemudian di- connect dengan LRT dan BRT yang ada di Kota Medan sehingga terintegrasi. “Untuk saat ini Pemko Medan fokus mempersiapkan LRT dan BRT,” kata Wakil Wali kota saat menghadiri talk show di Medan, Kamis (29/3/2018)

Ditambahkan, penentuan dipilihnya transportasi sistem LRT dan BRT berdasarkan hasil studi dan  demand survey yang telah dilakukan. Dari hasil studi dan survey yang dilakukan, Wakil Wali kota memaparkan, respon masyarakat cukup baik. “Masyarakat mau beralih dari angkutan konvensional selama ini dengan LRT dan BRT,” ungkapnya.

Oleh karenanya, tegas Wakil Wali Kota, proyek LRT dan BRT didikasikan Pemko Medan kepada warga Kota Medan. Untuk itu dalam proses pembangunannya, mantan anggota  DPRD Kota Medan tersebut minta dukungan penuh dari seluruh masyarakat.  Di samping itu jika pun ada yang kurang jelas terkait proyek LRT dan BRT, Wakil Wali kota menyarankan segera menanyakan langsung kepada Pemko Medan. “Kami akan langsung menjelaskannya,”  ujarnya.

 Sementara itu Kepala Bappeda Kota Medan Ir Wirya Al Rahman menambahkan,  proyek LRT dan BRT di Kota Medan dibangun dengan sistem Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU). “Pembiayaanya sebagian besar menggunakan dana dari pemerintah dan kita berupaya seminim mungkin mengeluarkan anggaran,” jelas Wirya.             

Proyek pembangunan LRT dan BRT di Kota Medan, jelas Wirya, merupakan  proyek KPBU pertama di Indonesia. Sedangkan di Kota Palembang dan DKI Jakarta kata Wirya, pembiayaannya menggunakan dana dari APBN. “Selain proyek LRT dan BRT, pengembangan RSUD Dr Pirngadi juga kita lakukan dengan sistem KPBU,” terangnya.

                Ketika disinggung mengenai besarnya tarif yang akan diberlakukan ketika LRT dan BRT dioperasikan, Wirya mengatakan Rp.10.000 dari satu titik ke titik paling jauh. Dia menilai, tarif itu cukup ekonomis, sebab masyarakat tidak perlu berganti-ganti kenderaan seperti yang selama ini dilakukan ketika menaiki angkutan kota.

                Dikatakan Wirya, sebagai tahap awal, rute  LRT adalah Laucih – Aksara, sedangkan rute BRT yakni P Baris – Amplas. “Dipilihnya rute ini berdasarkan hasil survey, sebab rute ini paling mendesak untuk segera dilakukannya reformasi angkutan massal. “Yang pasti rute yang dilalui LRT dan BRT akan terintegrasi dengan Lapangan Merdeka/Stasiun Kereta Api,” paparnya.

                Terakhir, Wirya menambahkan, setiap koridor yang akan digunakan para penumpang untuk mengunggu LRt maupun BRT akan dilengkapi fasilitas tempat duduk yang baik serta tempat menjual makanan dan minuman ringan . “Sudah itu kita upayakan waktu tunggunya hanya 5 menit sehingga warga tidak perlu lama menunggu,” pungkasnya.(lamru).