Connect with us

Nasional

Jejak Usmar Ismail dalam Industri Film Tanah Air

Published

on

Usmar Ismail merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam industri film Indonesia dan dinobatkan sebagai Bapak Film Nasional

Jakarta-GeoSiar.com, Usmar Ismail merupakan salah satu tokoh yang berpengaruh dalam industri film Indonesia dan dinobatkan sebagai Bapak Film Nasional.

Pria yang kelahirannya diperingati setiap tanggal 20 Maret ini aktif sebagai pengurus lembaga yang berkaitan dengan teater dan film.

Usmar juga sempat menjadi ketua Badan Permusyawaratan Kebudayaan Yogyakarta (1946-1948), ketua Serikat Artis Sandiwara Yogyakarta (1946-1948), ketua Akademi Teater Nasional Indonesia, Jakarta (1955-1965), dan ketua Badan Musyawarah Perfilman Nasional (BMPN).

BMPN kemudian mendorong pemerintah membentuk “Pola Pembinaan Perfilman Nasional” pada 1967.

Selain itu, Usmar juga dikenal sebagai pendiri Perusahaan Film Nasional Indonesia bersama Djamaluddin Malik dan para pengusaha film lainnya. Lalu, ia menjadi ketuanya sejak 1954 sampai 1965.

Usmar sering diilustrasikan dengan latar vintage sembari mengenakan kacamata dengan sebuah kamera perekam di sisinya.

Namanya diabadikan sebagai nama salah satu gedung (Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail) yang lokasinya ada di kawasan Jl H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Bapak Film Nasional ini berhasil menggarap lebih dari 30 film di Tanah Air semasa hidupnya.

Salah satu karyanya yang begitu fenomenal di jagat sinema lokal adalah film dengan judul Darah dan Doa (The Long March of Siliwangi, 1950).

Darah dan Doa merupakan adaptasi dari cerita pendek karya Sitor Situmorang. Kisahnya sendiri menceritakan Sudarto, seorang guru yang terseret revolusi fisik dalam periode perpindahan TNI dari Yogayakarta ke Jawa Barat pada 1948. Film ini bahkan disebut sebagai tonggak hidupnya industri film Indonesia.

Berkat film itu juga, Presiden B.J. Habibie dengan Dewan Film Nasional menetapkan Hari Film Nasional berdasarkan hari pertama syuting Darah dan Doa.

Dalam memperdalam ilmunya, Usmar menempuh pendidikan di HIS, MULO-B, AMS-A II Yogyakarta, kemudian melanjutkan studinya di Universitas California, Los Angeles, Amerika Serikat pada 1952.

Ketika masa pendudukan Jepang, usmar telah bergabung ke Pusat Kebudayaan.

Usmar juga telah mendirikan klub Sandiwara Penggemar Maya dengan beberapa tokoh seni, seperti El Hakim, Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, Sudjojono, H.B. Jassin dan masih banyak lagi.

Semasa kariernya, Usmar juga sempat mendapatkan penghargaan bergengsi Piala Citra. Filmnya berjudul Djam Malam dan Tamu Agung (1955) juga mendapatkan penghargaan Film Komedi Terbaik.

Melalui film Tamu Agung, Usmar menyampaikan kritik sosial dan politik yang dikaitkan langsung dengan masyarakat.(lpt6/r1)