Connect with us

Sumut

Warga Keluhkan Pelebaran Jalan Marindal Hingga Amplas

Published

on

Pembangunan dan pelebaran jalan dari Simpang Marindal hingga Amplas

Medan-GeoSiar.com, Warga dan pengguna jalan yang bermukim di daerah Simpang Marindal hingga Amplas merasa keberatan dengan pengerjaan proyek pembetonan Jalan Sisingamangaraja.

Dengan pembangunan jalan yang ada, warga merasa dipersulit dengan jarak tempuh yang semakin jauh akibat ditutupnya akses jalan memutar.

Sedangkan bagi para pemilik usaha, penutupan jalan tanpa akses memutar sangat mengganggu roda perekonomian warga.

Salah satunya dirasakan oleh Chandra Aritonang, penjual buah dan dan pemilik toko kelontong di Jalan Bajak 2 persis di persimpangan Marindal.

Chandra sempat khawatir, karena penutupan persimpangan tersebut, berdampak pada usahanya.

”Kurang lebih sebulan lalu, jalan yang mau ke Marindal ini ditutup. Jadi orang tidak ada yang lewat jalan (Bajak 2) ini, karena harus mutar dari Simpang lampu merah sana,” ujar pria paruh baya ini kepada Sumut Pos, Kamis (8/3/2018).

Menurutnya jualan para pedagang di persimpangan Marindal menjadi sepi.

Lalu, warga pedagang kemudian protes dengan melakukan demonstrasi ke Polsek Patumbak.

”Karena kami demonstrasi ke Polsek Patumbak, simpang itu jadi dibuka sedikit. Kalau tidak, jualan kami tak laku,” katanya.

Ia juga tak tahu, apakah persimpangan jalan menuju Marindal tersebut, nantinya bakalan ditutup.

Namun, ia berharap untuk mengurai kemacetan di persimpangan tersebut, pemerintah seharusnya dapat membuat lampu merah.

”Biar tidak macet kali disitu, maunya di buat lampu merah,” katanya.

Hal yang sama juga dikatakan David Fana, yang membuka usaha pangkas rambut di Jalan Sisingamangara.

Menurut David, jalan yang semakin tinggi, menyulitkan konsumen untuk memarkirkan kendaraan.

”Kalau jalan jadi lebih tinggi, bagaimana orang mau memarkirkan keretanya. Tadinya orang mau pangkas, jadi malas karena tidak ada parkirnya,” katanya.

David juga mengeluhkan tidak adanya akses perputaran jalan. Masalah itu, juga menjadikan usaha sepi dari pelanggan.

”Karena tidak ada perputaran jalan, usaha pangkas saya menjadi sepi beberapa hari ini,” ujarnya.

Bagi pengendara yang sempat dimintai komentarnya, juga mengeluhkan hal yang serupa. Umumnya kebanyakan dari para pengendara yang berdomisili di seputaran Jalan Sisingamangaraja resah karena tidak adanya akses jalan memutar yang memudahkan para pengguna jalan.

Bagi mereka, warga harus memutar jauh hingga persimpangan lampu merah. Hal itu jelas sangat merugikan karena akan memakan waktu.

“Tiap pagi aku mau berangkat kerja harus memutar jauh sampai lampu merah Marindal. Inikan jelas merugikan warga bang,” pungkasnya. (Smtps/r1)