Connect with us

Nasional

Korban Jatuhnya Pesawat Merpati Alami Trauma Berat

Published

on

Bangkai Pesawat Merpati yang jatuh pada Rabu (30/1/1991)

Gorontalo-GeoSiar.com, Salah satu korban jatuhnya pesawat Merpati pada Rabu (30/1/1991) menceritakan trauma mengerikan yang pernah dialaminya ketika foto mengenai bangkai pesawat kembali mengemuka belakangan ini.

Foto bangkai pesawat Merpati yang ditemukan oleh warga pencari sarang burung walet sudah viral dan menjadi perbincangan di media sosial.

Salah satu korban selamat dalam kecelakaan pesawat rute penerbangan Manado-Gorontalo itu adalah Lasmi Abukasi, warga Desa Tanggilingo, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango.

Lasmi membenarkan bangkai pesawat yang ditemukan warga itu merupakan pesawat Merpati yang pernah ditumpanginya.

“Melihat foto bahwa posisi pesawat sampai dengan saat ini masih begitu teringat jelas dan juga lokasi penemuanya di Hutan Atinggola atau yang disebut Hutan Tihengo,” ujar Lasmi pada Kamis (8/3/2018).

Wanita paruh baya itu menuturkan, pesawat yang ditumpanginya tinggal landas dari Bandara Sam Ratulangi Manado sekitar pukul 15.00 Wita pada Rabu sore.

Lasmi tak memiliki firasat apa pun soal penerbangan yang akan dijalaninya.

“Bahkan, cuaca dikabarkan baik-baik saja,” katanya.

Setelah beberapa menit terbang, pesawat Merpati itu sudah mendekati wilayah Bandara Djalaludin Gorontalo.

Menurut Lasmi, awak pesawat saat itu memberitahukan pesawat jenis Casa 212 tipe 200 itu, lima menit lagi akan mendarat.

“Namun waktu sekitar pukul 18.30 Wita, cuaca kemudian gelap dan berkabut dan saat itulah tanpa disangka, pesawat yang kami tumpangi mendarat darurat di sebuah gunung, yakni Gunung Tihengo dengan posisi badan pesawat tertancap di sebuah pohon besar,” tuturnya.

Setelah pesawat mendarat darurat, semua penumpang dan kru yang berjumlah 32 orang langsung keluar dari dalam pesawat menuju tanah. Mereka malam itu sempat berusaha mencari bantuan, tapi tidak membuahkan hasil.

“Kami pun kemudian memutuskan untuk tidur di dalam hutan dengan berbekal makanan ringan yang kami bawa sebelum take off dari Manado,” tuturnya.

Mereka bertahan dengan makanan dan air yang seadanya. Mereka bahkan minum air yang tersedia di batang rotan. Setelah berhari-hari, persediaan makanan mereka akhirnya habis.

Saat itu, cuaca buruk masih menyelimuti hutan. Kondisi tersebut membuat Tim SAR baru berhasil menembus lokasi kecelakaan pesawat pada hari keempat dengan menumpang helikopter milik ABRI (sebutan TNI zaman dulu).

Saat sebagian tim SAR meluncur dengan tali dari helikopter, personel lain sibuk menurunkan logistik berupa makanan kepada para korban kecelakaan pesawat.

Tim SAR yang tiba di darat langsung mempersiapkan landasan helikopter darurat dengan menebang pohon sekitar. Tujuannya untuk mempermudah evakuasi pesawat.

Lasmi mengatakan tak ada penumpang yang meninggal saat pesawat mendarat darurat. Hanya ada beberapa orang yang mengalami luka lecet dan trauma.

Meski begitu, satu penumpang lelaki yang berusia sekitar 70 tahun tidak berhasil bertahan di hutan. Kondisinya menurun karena cuaca saat itu sangat dingin. Pada hari ketiga, pria tua tersebut meninggal dunia.

Setelah enam hari berlalu, Tim SAR dan Gegana berhasil mengevakuasi seluruh korban yang selamat dengan mengunakan helikopter.

“Dengan kejadian tersebut, saya tak berani lagi naik pesawat,” pungkasnya. (Lpt6/r1)