Connect with us

Nasional

Irjen Heru Winarko : Penanganan Korupsi Tak Jauh Beda dengan Narkotika

Published

on

Kepala BNN yang baru, Irjen Heru Winarko menjalankan tugas usai dilantik di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (1/2/2018)

Jakarta-GeoSiar.com, Presiden Joko Widodo melantik Irjen Heru Winarko sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) menggantikan Budi Waseso (Buwas) di Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (1/2/2018).

Setelah melantik Heru, Jokowi menyampaikan doa dan harapannya kedepan untuk badan yang bergerak dalam usaha memberantas Narkoba.

Presiden berharap Heru dapat menerapkan standar tata kelola organisasi yang lebih baik seperti yang telah diterapkan di lembaga antirasuah saat ini.

Berlatar belakang Deputi Penindakan KPK, Jokowi yakin kinerja BNN dapat lebih optimal untuk program BNN selanjutnya.

“(Ingin) Ada standar-standar yang dibawa dari KPK ke BNN,” tutur Jokowi.

Aspek integritas, menurut Jokowi merupakan hal yang sangat penting untuk di pertahankan dalam upaya pemberantasan penyalahgunaan narkotika.

Hal ini berpotensi mengganggu integritas aparat penegak hukum yang gampang tergiur dengan modal ekonomi yang dimiliki para bandar.

“Karena di situ peredaran narkoba duitnya gede sekali. Omzetnya gede sekali. Gampang menggoda orang untuk berbuat tidak baik,” tuturnya lagi.

Dengan dilantinya Heru, Jokowi berharap jumlah peredaran narkotika di Indonesia semakin menurun dan upaya rehabilitasi dapat lebih dimaksimalkan.

Heru secara terpisah mengatakan siap dalam menjalankan saran Presiden untuk menerapkan tata kelola KPK ke BNN.

Heru menegaskan bahwa perubahan yang lebih baik diadopsi sesuai konteks yang ada.

“Beberapa hal yang menyangkut mengenai bagaimana kinerja lainnya akan disesuaikan di BNN ini,” ujarnya.

Sebagai langkah awal di era kepemimpinannya, jenderal bintang dua itu akan menginventarisir semua persoalan kelembagaan untuk dievaluasi.

Jenderal kelahiran Jakarta 1962 ini mengaku akan menerapkan program yang terdahulu yang dinilai baik.

Heru juga mengaku bahwa selama hampir 33 tahun ia telah bergelut dalam reserse.

“Saya banyak di bidang reserse, di situ juga (menangani) narkoba,” ujarnya.

Heru juga banyak menangani masalah Narkoba saat menjabat Kapolres Jakarta Pusat dan Kapolda Lampung.

Heru juga menilai proses penanganan korupsi tidak jauh berbeda dengan narkotika. Ia menuturkan bahwa tahapan penanganannya hampir sama yakni menerima aduan masyarakat, lalu melakukan penyelidikan, penyidikan, hingga pelimpahan kasus.

Sama halnya di BNN, di KPK juga ada upaya-upaya untuk melakukan pencegahan.

Mantan Kepala BNN Budi Waseso alias Buwas juga memberikan dukungan penuh terhadap penerus tongkat kepemimpinannya,

Budi meyakini bahwa keputusan presiden memilih Heru sebagai penggantinya adalah keputusan yang tepat dan dikaji berdasarkan proses seleksi yang ketat dan pertimbangan yang matang.

“Sepanjang dia punya komitmen yang kuat bisa, itu bisa,” ujarnya ditemui sebelum pelantikan.

BNN, menurut Buwas perlu meningkatkan sarana dan prasarana. Mengingat saat ini masih minim, khususnya pencegahan dan pemberantasan narkotika di daerah. ”Karena nanti, persyaratan KPU juga setiap pilkada, pilpres harus ada pemeriksaan lab bebas penyalahgunaan narkotika,” imbuhnya. Selain itu, peredaran narkoba di lapas, atau bahkan diatur dari balik jeruji yang masih terjadi juga jadi tantangan.

Buwas menambahkan, sinergitas dan kerjasama dengan lembaga lain juga perlu ditingkatkan. Hal itu dibutuhkan, khususnya dalam meningkatkan upaya pencegahan. “Fungsi pecegahan harus dibangun, bukan hanya penindakan,” pungkasnya.

Mantan Deputi Pemberantasan BNN Irjen (pur)) Benny Mamoto juga tak ketinggalan dalam memberikan masukan untuk Heru.

Menurutnya, Heru harus paham mengenai taktik bandar yang memerlukan beking untuk memberikan perlindungan.

”Mereka mencari dan menggalang oknum di semua lini,” tuturnya.

Oknum ini bisa memberikan perlindungan dengan berbagai cara yakni  membocorkan rencana, meloloskan narkotika hingga mengamputasi pasal-pasal yang menjerat bandar.

”Begitulah pentingnya oknum di mata bandar,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini terlihat gejala adanya fokus hanya menekan pasokan narkotika dan upaya menekan permintaan tidak gencar dilakukan. Kondisi itu yang tak seimbang ini memunculkan fenomena harga narkotika yang begitu mahal di pasaran.

”Dan tebak, siapa yang diuntungkan dalam kondisi ini. Jelas para bandar, mereka semakin kaya,” tuturnya.

Benny menyarankan Heru dapat memberikan suatu terobosan baru dalam upaya pemberantasan Narkoba yang semakin marak terjadi.

”Menekan permintaan narkotika ini perlu terobosan rehabilitasi yang masif, terukur dan berkelanjutan,” pungkasnya. (smtps/r1)