Connect with us

Nasional

5 Polisi Bersaksi Terkait Aksi Teroris Aman

Published

on

Lima saksi yang berasal dari anggota polri yaitu, M Ersyad Alfart, M Novriansyah, Purwoko, M Rizki, dan Kandinan Malin pada persidangan kasus terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pada Jumat (2/3/2018)

Jakarta-GeoSiar.com, Terdakwa Aman Abdurrahman kembali mengikuti persidangan kasus terorisme di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pada Jumat (2/3/2018).

Pada persidangan hari ini, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan lima saksi yang berasal dari anggota polri yaitu, M Ersyad Alfart, M Novriansyah, Purwoko, M Rizki, dan Kandinan Malin.

Kelima polisi tersebut menuturkan pengamatannya ketika pelaku menjalankan aksinya dan merenggut nyawa ke ketiga polisi yang kala itu sedang bertugas.

Pelaku, menurut keterangan saksi, melakukan peledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur, yang terjadi pada Mei 2017 lalu.

Berdasarkan surat dakwaan, Aman diduga teribat dalam serangkaian tindakan terorisme dengan melakukan peledakan bom di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat dan di Terminal Kampung Melayu.

Ketua Majelis Hakim Akhmad Jaini menanyakan kondisi Terminal Kampung Melayu saat sebelum ledakan dan sesudah ledakan.

Saksi Ersyad mengatakan, bersama sejumlah rekannya, ketika itu dia sedang menunggu pawai obor yang rencananya melintasi Terminal Kampung Melayu.

Tidak ada hal mencurigakan sebelum ledakan terjadi. Namun, pada pukul 20.50, tiba-tiba dari arah Halte Transjakarta Kampung Melayu terdengar dua kali suara ledakan yang cukup keras.

Jarak antara lokasi ledakan dan posisi Ersyad cukup jauh.

Ersyad mengaku melihat asap mengepul keatas dan menyaksikan secara langsung bahwa rekan-rekannya telah tergeletak.

“Teman-teman saya sudah tergeletak, ada Taufan, Gilang, dan Ridho. Mereka sudah diam saja. Itu bom ledakan pertama,” ujarnya.

Kemudian Ersyad mengaku mendengar ledakan kedua di sekitar itu juga, di tempat terbuka.

“Saya juga turut membantu. Saya lihat luka-lukanya berdarah,” tutur Ersyad.

Sementara saksi Purwoko mengaku tengah bersama saksi lainnya, Rizki dan Malin, sedang berada dalam sebuah angkot yang ngetem ketika ledakan terjadi.

Sebelum itu, Purwoko sempat berbincang dengan rekannya, Taufan, yang merupakan korban meninggal pada saat kejadian untuk memindahkan sepeda motor mereka ke arah halte. Setelah memindahkan motor, Purwoko masuk ke angkot untuk duduk.

Namun, tak berselang lama terdengar suara ledakan yang berasal dari arah parkiran.

Purwoko melihat sejumlah rekannya, Taufan, Gilang, Yogi, dan Ridho sudah rebah ke tanah.

“25 menit sebelum kejadian saya ngobrol sama almarhum Taufan untuk memindahkan motor.
Nah, motor saya diduduki Bripda yogi, dan di belakangnya ada Ridho, Gilang, Taufan.
Waktu kejadian kami di dalam angkot, pas kejadian ledakan itu kami kaget, saya keluar dari angkot. Saya lihat sudah ada korban, saya bantu cari angkot,” ujar Purwoko.

Novriansyah, Rizki, dan Malin juga menyampaikan hal serupa.

Ketiganya melihat kepulan asap tebal serta sejumlah rekan mereka tergeletak berucucuran darah.

Terkait kasus ini, si terduga teroris Aman Abdurrahman didakwa menggerakkan orang lain untuk melakukan berbagai aksi terorisme.

Pelaku juga didakwa Pasal 14 juncto Pasal 6 Perppu Nomor 1 Tahun 2002 yang telah ditetapkan menjadi UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. (Kps/r1)