Connect with us

Sumut

GPEI Sumut Gelar Rapat Konsultasi

Published

on

Ketua DPD GPEI Sumut, Hendrik Halomoan Sitompul pimpin rapat Konsultasi Kepelabuhanan 2018 di kantor PT Graha Segara, Belawan, Selasa (27/2/2018)

Medan-GeoSiar.com, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Provinsi Sumatera Utara (Sumut) Hendrik Halomoan Sitompul memimpin rapat Konsultasi Kepelabuhanan 2018 di kantor PT Graha Segara, Belawan pada Selasa (27/2/2018).

Dalam rapat turut hadir perwakilan Bea dan Cukai, Edi Linsius Sinaga, Balai Karantina, Hasrul, Belawan International Container Terminal (BICT) Pelindo I, Junaidi Karim, dan Otoritas Pelabuhan Belawan.

Sejumlah pelaku usaha ekspor di sumut seperti GAPKINDO, PT Best, PT Mutiara Laut Abadi, PT Grenex, PT Smart, PT Musimas,  ASKINDO dan Mutiara Abadi,  Deliteri juga memenuhi undangan rapat dan mendiskusikan berbagai permasalahan ekspor yang terjadi di lapangan.

Pada rapat konsultasi ini, GPEI memfasilitasi para pelaku eksportir untuk membahas pelayanan di lingkup Pelabuhan Belawan, Bea dan Cukai, Balai Karantina, Agen Kapal dan hal-hal penting lainnya.

Diskusi berlangsung dua arah dari pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB.

Kepada para pelaku usaha serta stake holder, Hendrik yang merupakan anggota Komisi C DPRD Medan memfasilitasi pelaku eksportir  untuk mendiskusikan permasalahan ekspor yang terjadi di lapangan.

“Dalam rapat ini, kita didudukkan bersama untuk berbagi dan sharing tentang kegiatan ekspor yang terjadi di lapangan. Apa yang dirasakan pelaku usaha terkait kebijakan di Pelabuhan, mari kita diskusikan dan cari solusi bersama,” ujar Hendrik saat membuka rapat.

Dalam diskusi, beberapa pelaku usaha memaparkan keluhan terkait rumitnya urusan birokrasi yang kerap kali memperlambat proses ekspor dan memberatkan para pelaku usaha.

Permasalahan gate in dan gate out di BICT menjadi salah satu topik yang dibahas dari sekian banyak permasalahan yang ada.

“Semoga waktu untuk open stage bisa diperpanjang 2X24 jam agar ada ruang bagi eksportir untuk merasa nyaman dalam melakukan usahanya. Sehingga harga yang dikenakan juga tak terlalu memberatkan,” ujar Sekretaris Jendral GPEI Sumut, Susilo.

Pelaku usaha juga mengeluhkan biaya yang besar pada IT per Nota dan waktu yang lama pada saat fixation dan transit.

“Kami para eksportir sepakat mendukung dwelling time agar optimal dan bisa meningkatkan ekspor,” ujar Sekretaris Jendral GPEI Sumut, Susilo.

Selain itu, para pelaku usaha juga mengeluhkan minimnya anggota Bea Cukai yang bertugas untuk memeriksa setiap dokumen masuk, sehingga efektivitas ekspor kurang maksimal.

Keluhan mengenai stempel basah di Karantina dalam pengurusan Surat Keterangan Asal Barang (SKA) juga dinilai sangat memberatkan.

Karantina juga diminta untuk dapat mengoptimalkan layanan online inpsection seperti yang diterapkan di BICT Pelindo.

Seluruh keluhan telah didiskusikan kepada seluruh instansi terkait yang menghadiri rapat dan akan segera di bawakan ke dalam instansi masing-masing sebagai masukan guna memperbaiki sistem yang ada.

Acara ditutup dengan makan siang bersama guna menjalin rasa kekeluargaan antar pelaku usaha dengan stake holder yang ada.

“Semoga kelancaran di Belawan secara holistic berjalan dengan baik, dan semoga kerjasama antar para pelaku usaha dan seluruh instansi dapat kita tingkatkan bersama demi meningkatkan pendapatan negara kita,” pungkas Hendrik mengakhiri pertemuan.(Cw1)

  • Perwakilan Belawan International Container Terminal (BICT) Pelindo I

  • Rapat Konsultasi DPD GPEI Sumut

  • Sekretaris Jendral GPEI Sumut, Susilo paparkan permasalahan eksportir

  • Perwakilan Karantina, Hasrul paparkan pendapat dalam diskusi

  • Perwakilan dari Otoritas Pelabuhan Belawan

  • Hendrik Halomoan Sitompul memoderatori para pelaku usaha dengan para stakeholder