Connect with us

Nasional

Ungkapan Syukur Romo Karl Edmund Prier SJ Pasca Selamat dari Maut

Published

on

Romo Karl Edmund Prier SJ saat mengunjungi Polda DIY, pada Rabu (21/02/2018).

Yogyakarta-GeoSiar.com, Korban serangan Suliono, Romo Karl Edmund Prier SJ di Gereja St. Lidwina Bedong, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengunjungi Polda DIY untuk menyampaikan ucapan terima kasihnya, pada Rabu (21/02/2018).

“Kami datang untuk berterimakasih karena sudah dibantu,” ujar Romo Prier di Mapolda DIY, Rabu (21/02/2018).

Sejak kejadian penyerangan Gereja Santa Lidwina, Bedog pada Minggu (11/2/2018) lalu, Romo Prier bertarung dengan maut yang hendak menjemputnya.

Romo Prier mengaku bersyukur bisa melewati masa kritisnya di rumah sakit dan kini masih menjalani masa pemulihan.

Sebagai ucapan syukur, Romo juga menuliskan sebuah surat yang merupakan hasil refleksinya pasca menghadapi penyerangan oleh orang tak dikenal.

“Hampir 2 minggu sudah lewat sejak saya hampir menjadi arwah. Namun nampaknya ada malaikat pelindung yang ikut campur tangan,” tulisnya mengawali.

Romo Prier mengaku bahwa ketia terjadi penyerangan sangat memungkinkan untuk melarikan diri dari gereja.

“Namun suara hati saya berkata: Jangan pergi. “Gembala yang baik tidak boleh lari bila serigala datang” (hm). Saya tetap berdiri di altar untuk membelokkan perhatian si pelaku dari umat kepada saya,” tutur Romo Prier.

Romo Prier mengaku bahwa sesudah memukul domba, “serigala” yang diibaratkan kepada penyerang, akan datang untuk memukul gembala.

Romo Prier mengaku si pelaku berdiri di gang tengah gereja dengan pedang panjang yang diangkat tinggi meneriakkan dengan keras “Allahu akbar”. Namun, pelaku tiba-tiba berhenti sejenak ketika melihat Romo Prier menatapnya. .

“Seakan-akan masih berpikir kok orang ini tidak takut? bagaimana saya bisa membuat dia takut? Pada saat itu saya merasa seperti Daud yang menghadap Goliat (hm). Anehnya tanpa takut sama sekali. Kemudian si Goliat datang ke belakang altar dimana saya berdiri,” kisahnya.

Romo mengaku bahwa si pelaku memukulnya sebanyak 2 kali di bagian punggung dan 3 kali di bagian kepala.

“Saya hanya perputar ke kanan, tetap berdiri di situ, tidak jatuh. Banyak darah mengalir dari kepala saya, maka saya pergi tanpa diikuti oleh dia,” tuturnya.

Ketua stasi Bedog segera mendekati romo dan membawanya ke UGD Panti Rapih bersama dengan tiga bapak lainnya yang luka berat.

“Sesudah itu si Goliat memenggal kepala patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus, merusak mimbar dll. Beberapa orang dari umat berusaha untuk melawan dia dengan tongkat, dengan melempar kursi dll. namun tidak berhasil juga,” lanjut Romo.

Polisi yang segera tiba di lokasi juga mendapatkan perlawanan dan dilukai dengan pedang si penyerang. Polisi akhirnya bisa menjinakkan pelaku dengan sebutir peluru yang menembus kakinya.

Luka Romo Prier dibagian kepala segera berbalut dan discan oleh seorang ahli bedah Dr. Wiryawan, .

“Dokter berkata lukanya harus dioperasi; tetapi untung selaput otak dan otak sendiri masih utuh. Operasi langsung terjadi juga tanpa kesulitan dan sebagai oleh-oleh / relikui, saya mendapat pecahan tengkorak yang diambil dokter dari dalam kepala saya,” ujarnya.

Ada tiga hal menarik bagi Romo Prier mengenai kisah yang dialaminya pasca penyerangan tersebut.

Pertama, ketika Sri Sultan berkunjung pada hari Minggu (11/2) ke ICU Panti Rapih dan meminta maaf padanya.

“Saya minta maaf pada Romo, baru kemarin saya diberi tahu oleh teman saya serumah, Rm. InNugroho SJ, bahwa kalimat ini tidak pernah terdengar sebelumnya dari mulut Sang Raja Yogya,” ujarnya.

Kedua, pada hari Senin (12/2) di Bedog umat Katolik mulai membersihkan gereja bersama.

“Namun anehnya segera didampingi oleh umat Islam sebagai tanda solidaritas. Bersama-sama gereja dicat baru hingga sekarang nampak lebih segar. Bahkan seorang haji pada hari Senin langsung menyumbangkan patung Bunda Maria dan Hati Kudus Yesus baru. Seorang lain lagi menyumbangkan CCTV / alat alarm yang juga langsung dipasang di gereja. Semuanya ini terjadi tanpa panitia dan rencana RAB dsb,” ujarnya.

Menurutnya, tanda tersebut merupakan sinyal kuat yang menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta berusaha keras untuk memperbaiki image sebagai kota nyaman yang akhir-akhir ini agak luntur.

“Ketiga, hari Senin tgl 19.2. di gereja Bedog dirayakan ibadat syukur: gereja diberkati kembali oleh Bp. Uskup Semarang Mgr. Robertus Rubiyatmoko. Para korban pun hadir, masih dengan balut-balut, namun dengan rasa syukur di hati,” katanya.

Namun pada misa tersebut tak hanya di hadiri oleh umat Katolik melainkan sebagian besar masyarakat Yogya yang simpati.

“Yang hadir bukan saja umat Bedog, tetapi dari seluruh kota Yogyakarta, katanya 1400 orang. Tentu kompleks gereja dijaga ketat juga oleh polisi,” ujarnya.

Dalam homili, Romo Prier membagikan sharing di depan seluruh umat.

“Saya tegaskan dua hal: Pertama, “Jangan takut! Kita mengalami bantuan luarbiasa pada saat dimana diperlukan”. Kedua, “Saya maafkan Sulyono dengan ikhlas. Karena saya juga tiap hari berdoa dalam Bapa Kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami,” akunya.

Romo Prier mengaku sangat menikmati proses pemulihannya.

“Rasanya tidak sakit tetapi masih lemas, karena Hb (darah) masih rendah. Balutnya sudah dilepas, tinggal menunggu rambutnya tumbuh kembali. Terima kasih atas segala doa dan perhatian yang sangat saya hargai. Maaf bahwa komunikasi sejak tgl 11 Februari agak macet, melalui surat umum ini saya ingin membalas segala email, SMS, WA yang saya terima dari Anda.Salam dalam Kristus,” tutupnya mengakhiri. (rel/r1)