Connect with us

Nasional

Jelang Pensiun, Budi Waseso Beri Wasiat Untuk Penerusnya

Published

on

Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso

Jakarta-GeoSiar.com, Komisaris Jenderal Polisi Budi Waseso akan segera mengakhiri masa jabatannya pada awal Maret mendatang.

Perwira Tinggi kepolisian yang akrab disapaan Buwas ini berharap penggantinya merupakan orang yang mengetahui betul seluk beluk Narkotika.

“Menurut saya kalau orang ‘kosongan’ dari narkotika, enggak mungkin bisa bekerja di sini (BNN, red). Sudah pasti enggak mungkin dan undang-undangnya mengatakan begitu,” ujarnya.

Namun, meskipun berharap penggnatinya memiliki pengetahuan yang dalam mengenai Narkotika, Buwas tak memungkiri bahwa ketika dipercaya menjabat sebagai pimpinan BNN, ia tak memiliki banyak pengalaman. Namun ia mengaku mau belajar dengan cepat untuk mampu menyesuaikan diri dengan berbagai kasus seputar Narkoba.

“Saat diperintahkan sebagai kepala BNN oleh Presiden, sebenarnya secara persyaratan saya ‘kosong’ untuk memimpin BNN. Tapi kan sudah perintah presiden dan negara, kan teman-teman tahu saya ditukar guling, antara Kabareskrim atau kepala BNN. Alhamdulillah Allah itu memang enggak salah nunjuk saya. Nah maka karena Allah saya bisa,” tuturnya.

Menjabat sebagai pimpinan penumpasan Narkoba bukanlah hal yang mudah bagi Buwas. Ia bahkan mengaku bahwa selama menjabat, banyak dipertemukan dengan orang yang berdarah dingin karena kecanduan Narkoba dan menjalankan bisnis haram yang merusak banyak orang.

“Karena kejahatan (narkoba) ini luar biasa. Kita menghadapi kejahatan manusia-manusia yang punya karakter yang luar biasa, dan perasaannya sudah melebihi dari para binatang,” tukasnya.

Berdasarkan pengalamannya seputar Narkoba, Buwas berharap penggantinya mengetahui secara persis masalah jaringan Narkoba dan menjiwai orang yang terjaring Narkoba.

“Maka orang yang ada di sini harus orang-orang yang tahu persis, terutama masalah jaringan-jaringan. Kalau normal-normal saja tidak bisa, percaya sama saya. Saya sudah sampaikan kepada presiden, kalau pengganti saya paling tidak punya persyaratan. Saya yakin kalau persyaratan terpenuhi maka Kepala BNN bisa melaksanakan tugas di BNN,” tuturnya.

Buwas berharap penerus tongkat kepemimpinanya dalam penumpasan Narkoba dapat melanjutkan sistem yang sudah terbangun dengan baik dan meningkatkan kualitasnya.

“Harapan saya sekarang sistem yang sudah terbangun di BNN harus terus dilanjutkan. Kerja sama yang telah terbangun dan sinergitas baik dengan TNI dan Polri, Bea Cukai, PPATK dan lainnya harus terus dibangun,” ujarnya.

Selain itu, Buwas berharap kepemimpinan di generasi selanjutnya dapat menjalin hubungan baik antar lembaga yang bekerjasama dalam menumpas Narkoba.

“Bagaimana kita kalau tanpa itu, mana mungkin kita bisa mengungkap TPPU tanpa bantuan PPATK, yang sekarang sedang kami telusuri. Kejahatan narkotika itu menghasilkan uang hingga Rp 7,4 triliun per tahun. Tahun 2016 itu peredaran uang­nya mencapai Rp 3,6 triliun, dan tahun 2017 ada Rp 7,4 triliun. Total dana yang sedang BNN lempar ke PPATK kurang lebih ada Rp 45 triliun,” terangnya.

Sehubungan dengan peredaran Narkoba yang ada di Jakarta, Buwas berharap Gubernur DKI dapat menindak tegas untuk membongkar sindikatnya.

“Saya enggak mau ngomong-ngomong aja. Enggak ada gunanya, harus konsekuen. Jadi kalau hanya ngomong doang, enggak perlu. Tapi kalau Pak Anies siap betul, saya kasih terus langsung tutup, saya baru mau kasih tahu,” ujarnya.

Berdasarkan informasi, peredaran Narkoba tersebar di 81 diskotik Jakarta.

“Kemudian saya random, saya suruh anggota untuk beli di 36 diskotik dan dipastikan positif ada (narkoba). Saya suruh orang untuk beli. Ternyata memang ada, baik itu sabu maupun ekstasi. Semua wilayah di Jakarta terwakili, ada,” ungkapnya.

Dalam memutus mata rantai penyebaran Narkoba, menurut Buwas perlu aksi yang nyata dan tindak tegas dari pemerintah.

“Negara kita ini perlu action, perlu perbuatan nyata. Saya se­rahkan kepada Kepala BNNP DKI, karena itu wilayahnya BNNP, saya tidak boleh melang­kahi itu. Tapi kalau hanya untuk main-main, enggak mau saya. Kalau Pak Anies betul yang saya kasih terus langsung ditutup, saya mau. Tapi kalau enggak mau, enggak usahlah, itu untuk saya sendiri gitu saja” pungkasnya. (rml/r1)