Connect with us

Sumut

Guru SMP Negeri 28 Medan Gelapkan Ratusan Unit Mobil dan Sepeda Motor

Published

on

Seratusan unit mobil diamankan pihak kepolisian

Medan-GeoSiar.com, Guru SMP Negeri 28 Medan, Ronatiur Verawati terjaring sindikat penggelapan seratusan unit mobil dan sepeda motor.

Guru yang merupakan pengajar bidang studi Bahasa Indonesia yang sudah berstatus pegawai negeri sispil (PNS) ini benar-benar merusak citra lembaga pendidikan tempatnya mengabdi.

Warga Jalan Bengawan, Lingkungan IX, Kelurahan Babura, Kecamatan Medan Sunggal ini diduga terlibat sebagai sindikat penipu dan penadah mobil dan sepeda motor.

Semua kendaraan bermotor hasil penipuan dan penggelapan itu dijual ke wilayah Aceh.

Deddy Purwanto, satu di antara korbannya mengaku mobil Avanza Veloz BK 1048 ER miliknya dibawa kabur Ronatiur sejak Januari 2018.

Ceritanya, pada Kamis (18/1) Deddy mengaku awalnya ingin menjual mobilnya dan memasang iklan di situs penjualan dalam jaringan atau online.

Ronatiur saat itu berkomplot dengan Victor untuk membeli mobil yang ingin dijual oleh korban.

“Setelah saya masang iklan, Sabtu (20/1) silam, saya dihubungi pelaku bernama Victor Marudut Marpaung yang merupakan teman Ronatiur. Kemudian dia mengatakan akan datang ke rumah saya melihat mobil yang hendak saya jual,” kata Deddy pada Rabu (21/2/2018).

Sore harinya, Ronatiur dan Victor datang ke rumah Deddy yang teletak di Jalan Sei Batuan/Darussalam.

Kedua pelaku kemudian mengecek mobil Deddy dan langsung mengajak transaksi.

“Saya buka harga Rp 40 juta. Kemudian sepakat lah mobil itu saya jual Rp 36 juta pada kedua pelaku. Dalam perjanjian, sisa kredit mobil saya akan dilunasi kedua pelaku,” kata Deddy.

Setelah sepakat, Deddy dan kedua pelaku berangkat ke perumahan Alam Asri di Jalan Djamin Ginting KM 13,5 untuk transaksi.

Korban dan dua pelaku beralih arah ke perumahan Vila Zekita karena di perumahan Alam Asri tak terdapat ATM. Di perumahan inilah transaksi dilakukan.

Kemudian, uang Rp 36 juta yang telah disepakati dibayar dengan cara transfer.

“Uang sebesar Rp 35 juta ditransfer, kemudian sisanya Rp 1 juta dibayar cash,” ungkap Deddy.

Seharusnya korban dan pelaku wajib mengurus segala administrasi ke leasing untuk mengurus administrasi balik nama dari Deddy selaku pembeli pertama kepada Ronatiur-Victor, namun karena waktu sudah sangat sore maka mereka sepakat untuk melakukannya pada Senin (22/1/2018), pekan berikutnya.

Namun, begitu waktunya tiba, pelaku menghindar dan kerap tak mengangkat telponnya.

“Saya ambil mobil itu kredit dengan jangka waktu 59 bulan. Mobil itu sudah berjalan tujuh bulan. Dan sisanya 53 bulan lagi. Nah, inilah yang harus dilunasi si pelaku ini,” ujar Deddy.

Oleh karena kedua pelaku terus menghindar, Deddy mencoba mencarinya di SMPN 28 Medan.

Beberapa kali mendatangi sekolah itu, Ronatiur tak berada ditempat.

Bahkan ketika Deddy menelusuri alamat yang tertera di KTP, pelaku tak jua ditemukan.

“Saya dikejar-kejar leasing jadinya. Pelaku ini pandai kali ngomongnya. Enggak cuma mobil aja, sepeda motor pun ikut digelapkannya. Saya ini korban ke 58. Ada ratusan korban lain yang bernasib sama dengan saya. Tapi beberapa di antaranya pasrah dan ikhlas. Menurut informasi, mobil para korban ini dijual ke Aceh,” kata Deddy.

Deddy kemudian menunjukkan berbagai dokumen menyangkut jual beli mobil miliknya.

Korban lainnya, Chandra (39), warga Jalan Setia Budi, Pasar I, Sunggal mengaku mobil Honda Civic BK 1593 DV miliknya di bawa kabur pelaku.

“Modusnya sama. Over kredit, tapi mobil saya malah dibawa lari. Pelaku enggak mau melanjutkan kredit mobil saya,” katanya.

Masih penipuan yang sama, pelaku tetap melanjutkan aksinya kepada korban lain, Sanjiwi (24) yang merupakan warga Jalan KL Yos Sudarso, Lingkungan IV, No 16 A, Medan Barat.

Sanjiwi kehilangan mobil Datsun Go bernomor plat BK 1348 FA miliknya.

“Sesuai kesepakatan, mobil punya saya itu dijual seharga Rp 18 juta dengan perjanjian sisa kredit dilunasi pelaku. Tapi, setelah mobil dibawa, pelaku tak mau membayar sisa kredit 52 bulan lagi,” katanya.

Korban mengaku telah berupaya mencari pelaku yang hilang tak berbekas.

Terkait penipuan tersebut, kejahatan Ronatiur ternyata sudah diketahui para guru SMPN 28 Medan.

Kepala SMPN 28, Horas Pohan mengaku sudah mengetahui kasus penipuan yang kerap menjerat Ronatiur. Horas mengaku sudah memberikan surat peringatan kepada Roniatur.

“Saya pun sempat menasihati dia itu. Saya bilang sama dia begini. Sudah lah, tinggalkan pekerjaan mu itu. Cukuplah kita nikmati gaji kita sebagai guru,” kata Pohan.

Ronatiur yang mendapatkan SP tetap beraksi meskipun sudah berjanji tak akan melakukannya. Korban yang merasa keberatan selalu mendatanginya ke sekolah dan menuntut pihak sekolah.

Wakil Kepala SMPN 28 mengaku Ronatiur pernah ditangkap polisi saat tengah mengajar di kelas.

“Waktu itu saya yang nerima langsung polisinya. Mereka bawa surat penangkapan. Polisinya dari Simpang Kantor (Labuhan),” katanya.

Untuk tak mempermalukan Roniatur di hadapan para siswanya, ia kemudian memanggil Ronatiur ke kantor untuk dibawa oleh pihak kepolisian.

Kapolsek Sunggal, Kompol Wira Prayatna membenarkan telah mengamankan Ronatiur.

Mantan Kapolsek Delitua ini belum bisa menjabarkan lebih lanjut kasus ini karena masih dalam tahap penyelidikan.

“Memang ada kami amankan. Yang bersangkutan kami tahan dalam kasus 480. Dia sebagai penadah,” kata Wira.

Mantan Wakasat Narkoba Polresta Medan ini mengatakan, Ronatiur ditangkap berdasarkan dua laporan korbannya.

“Ada dua orang yang kami amankan. Tapi nanti saya cek lebih lanjut dulu ke kantor. Saya khawatir salah menyampaikan informasi,” pungkas Wira.(Trb/r1)