Connect with us

Nasional

Hina Jokowi dan Buya Syafii, Polisi Tangkap Pria Berinisial AA

Published

on

Dirtipid Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran.

Jakarta-Geosiar.com, Satuan Tugas (Satgas) Patroli Medsos Dittipidsiber Bareskrim Polri menangkap pria berinisial AA (34) terkait kasus ujaran kebencian. AA diduga menyebarkan ujaran kebencian lewat media sosial yang ditujukan kepada Presiden Jokowi dan tokoh Muhammadiyah sekaligus anggota Dewan Pengarah UKP Pancasila, Syafii Ma’arif.

“Satgas Patroli Medsos Dittipidsiber Bareskrim Polri telah melakukan penangkapan terhadap pelaku penyebaran hate speech berupa penghinaan dan pencemaran nama baik kepada Presiden Jokowi, tokoh ulama Buya Syafii dan Polri melalui media sosial facebook,” kata Dirtipidsiber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran dalam keterangannya, Kamis (15/2/2018).

Menurut Fadil, AA juga diketahui memasang foto tengah menenteng senjata laras panjang. Namun belum ada keterangan dari mana senjata itu didapatkan.

Fadil menjelaskan, AA mengungkapkan ujaran kebencian dengan alasan kecewa terhadap Jokowi dan Buya Syafii. “(Motif) menyebarkan konten hate speech dengan alasan spontanitas atas ungkapan rasa kecewa,” imbuh Fadil.

Atas perbuatannya, AA dijerat dengan Pasal 45 ayat (3) Jo pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik dan atau pasal 310 KUHP dan atau pasal 311 KUHP dan atau Pasal 207 KUHP.

Fadlli menyatakan pihaknya juga menyita sejumlah barang bukti berupa 1 unit handphone Xiaomi Redmi3S, sim card Telkomsel, akun Facebook AA, dan 1 unit Senjata laras panjang air softgun.

Ada pun ujaran kebencian yang ditulis dalam akun Facebook AA adalah sebagai berikut, sebagaimana disampaikan Fadil:

1. Polisi zaman now justru membiarkan kejahatan membungkam suara Keadilan
2. Saat Ulama diserang dan dibunuh, dia diam dan cuek saja. Giliran gereja diserang, dia dengan sigap menjenguk gedung gereja tersebut. Mengapa bisa begitu..? sebab, kalau ke gereja dia dapat amplop.?.
3. Beda level, Umar bin Khattab adalah Khalifah, sementara Jokowi cuma jongosnya Aseng dan Asing
4. Kalau gak ngutang, ya jual asset Negara. Itu kehebatan Jokowi. (Dtk/R2)