Connect with us

Sumut

Wasekjen DPP Nasdem : Pemilihan Kepala Daerah Adalah Pemilihan Pejabat Publik Bukan Pemilihan Penatua Gereja dan Pengurus Mesjid!

Published

on

Wasekjen DPP Partai NasDem, Hermawi Fransiskus Taslim optimis Pilkada Sumut 2018 berjalan baik dalam Dies Natalis GMKI 68 di Gedung Catolic Center Jalan Mataram No.21, Medan Baru, pada Kamis (8/2/2018)

Medan-GeoSiar.com, Wakil Sekretaris Jendral (Sekjen) DPP Partai NasDem, Hermawi Fransiskus Taslim menyatakan optimis Pilkada Sumut 2018 berlangsung dengan baik tanpa berujung bentrok.

“Kelihatan Pilkada Sumut cerah dan itu yang bagus,” ucap Taslim saat menghadiri Dies Natalis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) ke 68 Cabang Medan di Gedung Catolic Center Jalan Mataram No.21, Medan Baru, pada Kamis (8/2/2018).

Turut hadir perwakilan dari partai politik lainnya seperti PPP, PKB, Golkar dan Hanura hadir dalam diskusi panel yang dihadiri kurang lebih 200 peserta.

Pilkada Sumut yang hanya sekali dalam 5 tahun kedepan, menurut Taslim wajib dikawal dengan baik oleh seluruh masyarakat Sumatera Utara.

Peserta, ditekankan Taslim untuk dapat menghargai setiap proses pilkada yang mampu mendewasakan semua lapisan khususnya masyarakat Sumatera.

“Yang lebih penting dari pilkada bukan soal siapa yang menang,” tegas Taslim.

Menurut mantan staf ahli MPR RI ini, masyarakat wajib bekerjasama dalam mengawal proses pemilihan sehingga mampu mematangkan dan mendewasakan.

“Jangan berkelahi gara-gara calon, belum tentu nanti gubernur ingat kalian, ngapain kalian berantam,” ujarnya lagi.

Dalam semangat yang berbeda dan kepentingan politik yang bermacam-macam, menurut Taslim masyarakat harus memiliki tekad yang sama untuk lebih mengutamakan keutuhan Sumatera Utara.

Menurut Taslim, ada dua poin utama yang wajib diperangi oleh masyarakat untuk mewujudkan proses Pilkada yang kondusif yakni politik uang dan primordialisme.

“Masyarakat harus cerdas melawan politik uang yang menjadi musuh utama dan mengesampingkan isu yang berbau agama dan suku karena pemilihan kepala daerah itu adalah pemilihan pejabat publik, bukan pemilihan penatua gereja, bukan pemilihan pengurus mesjid, melainkan pemilihan pelayan publik,” tegasnya.

Menurut Taslim, dalam memilih sosok pemimpin, masyarakat wajib mengadakan check dan richeck terlebih dahulu terkait latar belakang para calon yang maju bertarung dalam Pilkada.

“Tinggal periksa track recordnya saja. Wajib ngecek dulu dong, dia kalau mau jadi calon pemimpin bisa apa? Apa yang sudah di perbuatnya? Bukan malah ngecek dia suku apa dan agama apa,” terangnya lagi.

Menurut Taslim, masyarakat Sumut harus bersatu padu dalam menjaga keutuhan NKRI dan bersyukur bisa melewati proses pilkada yang semakin mendewasakan.

“Sumut Indonesia kecil, semua ada disini, bahkan yang tak ada di tempat lain. Ditempat lain ga ada keturunan India, disini banyak, nah ini yang harus di jaga terus,” ujarnya.

Pilkada ditahun ini, terang Taslim, punya harapan yang besar untuk menjadi batu loncatan bagi masyarakat Sumut untuk bangkit dari kesalahan-kesalahan di masa lampau.

“Hanya keledai yang jatuh dilubang yang sama. Masa tak jera-jera? Masa Gubernur Sumut beberapa kali menghuni rumah miskin? Yang benar saja,” terangnya.

Olehkarena itu, masyarakat Sumut menurut Taslim harus bertekad mendukung siapapun pemimpinnya nanti demi mewujudkan kesejahteraan bersama.

“Itu bukan tugas kepala daerahnya saja, melainkan masyarakat karena masyarakat yang pilih,” pungkasnya. (CW1)