Connect with us

Nasional

Pekan Studi Nasionalisme Yogyakarta

Published

on

Peserta Pekan Studi Realino 2018 di Jl. STM Mrican Tromol Yogyakarta yang dimulai dari Kamis (18/1/2018) hingga Minggu (21/1/2018)

Yogyakarta-GeoSiar.com, Lembaga Studi Realino Yogyakarta menggelar Pekan Studi Nasional selama 4 hari 3 malam di Studi Realino Jl. STM Mrican Tromol Yogyakarta yang dimulai dari Kamis (18/1/2018) hingga Minggu (21/1/2018).

Kegiatan ini merupakan suatu forum diskusi untuk membahas berbagai kondisi bangsa yang ada di Indonesia.

Adapun peserta yang hadir, merupakan perwakilan dari wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan dan juga Papua dengan total peserta 25 orang.

Dalam kegiatan ini, turut hadir sebagai narasuber Head of Social Media Crisis Center di Executive Office of The President of The Republic of Indonesia Wisnu Hardana, Program Manager at Tifa Foundation Jabodetabek R. Kristiawan dan juga Staf Gubernur Jawa Tengah Sunaryo.

Forum diajak untuk memberikan pandangannya mengenai isu-isu negatif yang berkembang dalam masyarakat dengan tujuan mencari solusi bersama demi menjaga kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI)

Tujuan diselenggarakan kegiatan ini untuk membangun, memperkuat dan memperkokoh semangat nasionalisme yang ada dalam diri para peserta.

Seluruh peserta diajak berdiskusi mengenai sejarah perjuangan bangsa dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang bisa dirasakan hingga saat ini.

“Membayangkan suatu negara jauh lebih mudah daripada membayangkan suatu bangsa,” ujar Direktur Lembaga Studi Realino Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Romo Albertus Budi Susanto S.J. saat mengawali diskusi pada Kamis (18/1/2018).

Dalam diskusi, dosen program Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini mengajak peserta untuk mendalami konstruksi sejarah di Indonesia.

Kesadaran bahwa kemerdekaan didapatkan dari hasil perjuangan seluruh bangsa Indonesia yang merasa senasib dan seperjuangan wajib dipahami sebagai sebuah hal yang mendasar.

Kemerdekaan dapat diraih oleh para pejuang karena tak mempermasalahkan perbedaan yang ada.

“Zaman dahulu semua rakyat Indonesia memiliki satu rasa meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, yaitu rasa untuk berjuang bersama demi mencapai suatu kemerdekaan,” tuturnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Pastor Mahasiswa Keuskupan Agung Jakarta, Romo Ignatius Ismartono yang mengajak peserta melihat fenomena di dalam masyarakat.

Penindasan, penelantaran dan juga pendiskriminasian, menurutnya kerap menyasar kaum yang lemah dan tak berdaya yang seharusnya diperhatikan dan diayomi kesejahteraannya.

Melalui kegiatan ini, peserta juga diajak untuk melakukan exposure secara berkelompok dengan mengunjungi beberapa lokasi yang ada di kota Yogyakarta.

Adapun wilayah observasi dimulai dari Gedung Agung, Titik Nol, Keraton Yogyakarta, Gardena hingga Jokteng Wetan.

Peserta diminta untuk mengobservasi secara langsung mengenai berbagai pesan yang terdapat di tempat umum melalui baleho, spanduk dan bahkan poster. Analisis sosial juga dilakukan untuk menggali makna yang tersirat sekaligus untuk mengetahui suara dari pihak yang diperjuangkan melalui media komunikasi tersebut.

Ada banyak kemungkinan yang bisa di gunakan dalam menginterpretasikan pihak yang dimadsud mulai dari rakyat, pemerintah atau pihak lainnya yang ingin menyuarakan pendapatnya.

Diakhir kegiatan, peserta mempublikasikan sebuah karya dalam bentuk poster maupun video dalam media sosial yang merupakan wujud konkret dari hasil observasi selama dilapangan.

Tak hanya itu, peserta juga diberikan masing-masing tugas untuk selalu menyebarkan konten positif yang dapat memupuk semangat nasionalisme sebagai suatu bangsa melalui artikel yang diunggah bersama pada Sabtu (20/1/2018).

Dengan demikian, penggunaan media dapat digunakan sebagai sarana yang efektif untuk dijadikan alat penyambung lidah rakyat.(Cw1)