Connect with us

Dunia

Disebut Negara ‘Lubang Kotoran’, Haiti Panggil Diplomat AS

Published

on

Presiden Amerika Serikat Donald Trump

Port-Au-Prince -Geosiar.com, Otoritas negara Haiti kaget atas pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang melontarkan kata-kata kasar dan menganggap Haiti sebagai negara ‘lubang kotoran’. Pemerintah Haiti memanggil pemimpin misi diplomatik AS untuk meminta penjelasan resmi, di Port-Au-Prince, ibukota Haiti, Jumat (12/1/2018).

Sebelumnya, pada Kamis (11/1), Presiden AS Donald Trump mempertanyakan kenapa AS mau menerima para imigran Haiti dan negara-negara Afrika, dengan menyebut beberapa negara sebagai “negara-negara lubang kotoran”, menurut dua sumber berita yang mendengar perkataan tersebut, seperti dikutip Reuters.

Pada Jumat (12/1), Donald Trump membantah telah mengeluarkan kata-kata kasar seperti yang diberitakan. Namun Senator Partai Demokrat AS Dick Durbin, yang menghadiri pertemuan Gedung Putih soal imigrasi satu hari sebelumnya, memastikan kepada para wartawan bahwa Trump memang menggunakan bahasa yang “keji dan kasar”, termasuk “lubang kotoran.”

Pemerintah Haiti sedih atas pernyataan Trump tentang negara mereka. Apalagi saat itu merupakan hari dimana Haiti sedang memperingati tahun kedelapan terjadinya gempa bumi hebat yang telah menewaskan 220.000 orang di negara kepulauan itu.

“Saya sudah berbicara dengan Presiden Haiti Jovenel Moise tentang masalah itu, dan tentu saja Presiden mengecam perkataan seperti itu dan beliau merasa kaget,” ujar Duta Besar Haiti di Washington DC, AS, Paul Altidor.

Menurut Altidor, Menteri Luar Negeri Haiti Antonio Rodrigue mengatakan kepadanya bahwa kepala misi diplomatik AS di Haiti sudah dipanggil untuk dimintai penjelasan soal dugaan perkataan kasar oleh Trump.

“Rakyat Haiti tidak boleh diperlakukan seperti itu. Rakyat Haiti tidak boleh dilihat sebagai sekelompok imigran yang datang di Amerika Serikat untuk mengeksploitasi sumber-sumber daya AS,” ujarnya.

Altidor menegaskan, pemerintah AS harus menghargai Haiti atas sumbangannya kepada sejarah, termasuk dukungannya pada Revolusi Amerika berupa pengerahan pasukan ke Pertempuran Savannah di Georgia pada 1779.

“Kita sudah berada di AS sejak lama dan memberikan sumbangan kepada AS yang sudah seperti sekarang. Kami bahkan memberikan pengorbanan habis-habisan ketika kami menumpahkan darah kami di Savannah.” ujar Altidore.

Dengan pernyataan Trump tersebut, politisi Afrika menilai Trump sebagai sosok yang “rasis”. Sementara kantor hak asasi manusia (HAM) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menanggapi dugaan perkataan Trump itu sebagai “rasis” dan bernada hasutan.(Ant/R2)