Connect with us

Nasional

Pemerintah Cuek, Warga Perbatasan Ancam Golput di Pilpres 2019

Published

on

Situasi daerah perbatasan Indonesia-Malaysia

Jakarta-Geosiar.com, Warga perbatasan Indonesia-Malaysia di Kecamatan Puring Kencana, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mengancam tidak akan ikut pemilihan presiden (pilpres) 2019. Warga merasa tidak mendapat perhatian dari pemerintah, yang dilihat dari rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan yang tak kunjung diperbaiki di kawasan tersebut.

Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat (Kesra) Kecamatan Puring Kencana Andreas Adi mengatakan kekesalan masyarakat karena kurangnya perhatian dari pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah mengakibatkan mereka mengancam untuk masuk dalam golongan putih atau golput pada Pilpres 2019 mendatang.

“Masyarakat kecewa karena memang mereka sangat mengharapkan adanya pembangunan,” kata Andreas, dilansir Tempo, Selasa, 19 Desember 2017.

Selain akses jalan dan jembatan yang rusak, warga juga sulit mendapatkan aliran listrik dan air bersih. Akibatnya, warga lebih memilih untuk erbelanja kebutuhan sehari-hari di Malaysia karena aksesnya lebih mudah. “Karena itu kebutuhan dasar,” ujar Andreas.

Hal senada disampaikan Kepala Dusun Langau, Desa Langau, Kecamatan Puring Kencana, Lusianus Adam. Menurutnya, pemerintah kurang memperbaiki pembangunan infrastruktur di daerahnya. “Selama ini, kami di daerah perbatasan tidak diperhatikan pemerintah, sedangkan kami selalu menjaga NKRI.” tegasnya.

Menurut Lusianus sudah puluhan tahun kondisi pembangunan, khususnya infrastruktur jalan dan jembatan, tidak diperhatikan secara serius oleh pemerintah.

Sedangkan Kepala Dusun Sungai Antu, Kepala Desa Sungai Antu, Kecamatan Puring Kencana, Bonifasius Efendy, mengatakan, selama ini, masyarakat perbatasan belum menikmati buah dari kemerdekaan.

“Kami sangat malu terhadap negara tetangga.” Pembangunan di Malaysia, ucap Efendy, sangat maju. “Kami di perbatasan ini hanya bisa merenungi, kenapa kami seperti dianaktirikan.”

Efendy menegaskan warga di perbatasan sangat mencintai Indonesia, tapi mereka merasa pemerintah mengabaikan pembangunan di perbatasan. Ia berharap Presiden Joko Widodo merealisasi pembangunan di daerahnya.

“Kami beranda depan Indonesia. Wajah Indonesia tempatnya di perbatasan.” tegasnya. (Tpo/R2)