Connect with us

Sumut

ISKA Diskusi Larut Seperti Garam dalam Masyarakat

Published

on

Eksekutif Telkomsel Sumatera Paulus Zatmiko sedang berdiskusi dengan Anggota ISKA dalam diskusi di Gedung di Gedung Catolic Center pada Sabtu (16/12/2017) pukul 10.00 WIB

Medan-GeoSiar.com, Ketuan Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) Sumatera Utara Drs. Hendrik Halomoan Sitompul membuka diskusi bersama dengan pembicara dari Executive Vice President Telkomsel Sumatera Paulus Djatmiko di Gedung Catolic Center pada Sabtu (16/12/2017) pukul 10.00 WIB.

“ISKA merupakan wadah perkumpulan para cendikiawan yang sebaiknya bisa menggarami, maka dalam diskusi ini, ISKA ingin lebih mendalami perannya sebagai garam dalam masyarakat bersama dengan Pak Paulus,” tutur Hendrik dalam kata sambutannya.

ISKA menurut Hendrik berkeinginan meningkatkan sumber daya dengan menjadi garam ditengah masyarakat melalui dialog singkat.

ISKA mengundang Paulus sebagai pembicara untuk sharing dalam diskusi bertema “Larut sebagai garam dalam masyarakat. ”

“Menggarami yaitu mengembalikan ajaran Yesus untuk berbuat baik jadi sabda Allah yang hidup,” ujar Paulus membuka diskusi.

Paulus mengatakan bahwa sebagai umat Allah,  kita harus menyadari peran sebagai hamba Allah dalam mewujudkan kasih bagi sesama.

“Sebagai umat Katolik,  kita seharusnya bisa bersikap sesuai kehendak Allah dengan tidak munafik dan main hakim sendiri. Percaya akan kondisi spiritual, maka ajaran Yesus yang kita sampaikan harus bisa menjadi garam,” tuturnya.

Paulus juga mengatakan kecanggihan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana dalam menjadi garam.

“Allah hadir dalam diri saudara kita yang paling hina dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Paulus mengajak peserta diskusi untuk merefleksikan kebaikan apa yang sudah dilakukan yang berdampak bagi masyarakat.

Allah dalam diri orang lain menurut Paulus harus dilaksanakan dengan menyapa orang yang hina disekitar kita.

Paulus menyadarkan bahwa kondisi saat ini sangat dibutuhkan insan yang bisa menggarami dengan baik diera globalisasi dengan kecanggihan teknologi.

Menurut Paulus, sebagian besar masyarakat telah mengugunakan sosial media 24 jam, maka sebagai garam diminta untuk andil dalamnya mengontrol penggunaan dan penyebaran konten nagatif.

Paulus mengingatkan bahwa kita harus memiliki sebanyak mungkin agen untuk membawa ke arah yang lebih bagus untuk pemuda katolik yang nantinya akan masuk dalam masyarakat.

Maka menurut Paulus, secara bertahap kedepannya ISKA bisa fokus pada pilar pilar membangun generasi muda katolik yang kritis dan cerdas bermedia.

“Kita sebagai pengguna media sebaiknya bisa mengontrol konten negatif yang tersebar dengan kritis dan membentenginya dengan iman. Maka kita harus menerapkannya pada kaum muda,” pungkasnya. (cw1)