Connect with us

Sumut

Diskusi ISKA dan Telkomsel: Gegar Informasi di Kalangan Anak Muda Harus Diminimalisir

Published

on

Ketua ISKA Sumut Hendrik Halomoan Sitompul beroto bersama dengan Executive Vice President Telkomsel Sumatera Paulus Djatmiko usai diskusi di kantor ISKA, Sabtu (16/12/2017)

Medan-GeoSiar.com, Executive Vice President Telkomsel Sumatera Paulus Djatmiko menjadi pembicara dalam diskusi bertema ‘Larut Seperti Garam dalam Masyarakat’ yang difasilitasi oleh Ikatan Sarjana Katolik (ISKA) di Gedung Catolic Center, Sabtu (16/12/2017) pukul 10.00 WIB.

Ketua  Sumatera Utara Drs. Hendrik Halomoan Sitompul menyambut hangat diskusi santai yang berlangsung kurang lebih tiga jam.

“ISKA sebagai kaum intelektual Katolik menyadari betul perannya di dalam masyarakat untuk menjadi penggerak dan roda, maka dalam diskusi ini diharapkan dapat semakin memperkaya iman dan membuka cakrawala berpikir kita sebagai garam di tengah masyarakat,” tutur Hendrik.

Forum diskusi hangat ini dihadiri oleh 18 orang peserta yang merupakan gabungan pengurus ISKA Sumut dan Medan.

Paulus membagikan pandangannya dalam melihat kondisi terkini masyarakat Indonesia yang sudah mulai terpecah belah karena penyalahgunaan teknologi.

Menurutnya sebagian besar masyarakat sudah semakin tergilas dengan kecanggihan teknologi yang menghabiskan banyak waktu untuk berkreasi.

“Anak muda yang dikenal dengan generasi milenial pasti menghabiskan sebagaian besar waktunya untuk bermedia sosial. Mulai dari bangun pagi hingga istirahat malam, sehingga mereka diterpa oleh berbagai informasi yang datang dari belahan dunia manapun,” tutur Paulus.

Paulus menyoroti arus globalisasi yang berdampak pada generasi muda. Kondisi kaum muda menurut Paulus sangat memprihatikan karena mereka tak mampu menyadur dan menyaring informasi yang didapatkan.

Sumber yang kurang akurat dan berita singkat sering di konsumsi bulat-bulat dikalangan kaum muda.

“Belum sempat mengelolah informasi yang diterima dari scrolling, mereka para kaum muda langsung menekan tombol share. Pola pikir mereka sebagai kaum muda dan para pengguna sosmed terpola dengan like and share, tanpa mengkritisi terlebih dahulu,” tuturnya.

Mengadopsi berbagai berita tanpa menyaring, menurut Paulus merupakan suatu langkah membunuh bangsa.  Generasi milenial yang memang terpola dengan hal praktis tak ingin mengkritisi dengan mencari sumber referensi yang lain saat menerima sebuah informasi. Pola pikir mereka sudah terbiasa dengan pola pikir praktis dan instan tanpa terstruktur untuk mengkritisi berita yang ada.

“Inilah yang terjadi di dalam masyarakat yakni informasi buruk yang diproduksi oleh media instan tanpa sumber yang jelas berhasil dibagikan sebanyak-banyaknya, sehingga masyarakat yang tak kritis mudah diterpa oleh isu negatif dan menimbulkan konflik berkepanjangan. Bahkan berbagai macam isu hoax merambah ke seluruh lapisan masyarakat tanpa mampu di cegal,” tukasnya.

Gegar informasi menyulut konflik dan menyebabkan perpecahan antara satu dengan yang lainnya seperti yang terjadi dibeberapa penjuru tanah air. Jika hal ini tak diatasi, menurut Paulus maka akan memporak porandakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Untuk meminimalisir gegar informasi ditengah kaum muda, maka perlu diadakan pelatihan dan pembekalan cerdas bersosial media dan mengelolah informasi yang baik. Dengan kegiatan tersebut maka kaum muda bisa dipersiapkan sebagai generasi berkualitas yang bisa menjadi kebanggaan gereja dan negara,” tuturnya.

Paulus menyarankan dalam program ISKA kedepannya, generasi muda mendapatkan pembekalan khusus sebagai impelemntasi nyata dalam kegiatan diskusi singkat ini. Mereka diharapkan dapat menjadi pribadi berkualitas sehingga bisa menjadi garam dan terang di dalam masyarakat. (Cw1)