Connect with us

Dunia

Cegah Pembunuhan Massal, AS Ajak Korut Duduk Bersama

Published

on

Rex Tillerson ajak Korut berunding tanpa ada persyaratan pada Jumat (15/12/2017)

Pyongyang-GeoSiar.com, Ancaman perang nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) semakin nyata sejak Presiden AS Donald Trump mulai menjabat pada Januari 2017.

Di hadapan Sidang Majelis Umum Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September lalu, Trump mengancam akan menghancurkan Korut.

Tak hanya itu, AS diketahui menuntut Korut untuk mengakhiri program nuklir dan rudal mereka.

Tak terima, Korut memperingatkan AS mengenai penerapan blokade maritim yang dibuat akan menjadi perang menuju konfrontasi nuklir.

Pernyataan Korut tersebut muncul sebagai reaksi atas kabar bahwa kemungkinan AS akan menerapkan blokade laut di Semenanjung Korea.

“Blokade AL adalah tindakan pelanggaran sewenang-wenang atas kedaulatan dan martabat sebuah negara merdeka, dan agresi yang tidak dapat ditolerir,” tulis KCNA seperti dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (15/12/2017).

Perseteruan tersebut semakin mencuat ketika kabar tersebut terendus oleh kalangan media dan akademisi dalam beberapa pekan terakhir.

Korut telah menolak keras tuntutan tersebut dengan mengatakan bahwa pihaknya harus menjadi “kekuatan nuklir” demi mencegah “invasi dan penjarahan” oleh AS.

AS diketahui memiliki 28,500 pasukan yang ditempatkan di Korea Selatan.

“Geng Trump… mendorong situasi di Semenanjung Korea semakin dekat ke jurang perang, bertindak sembarangan tanpa alasan,” tulis media resmi Korea Utara, KCNA, dalam laporannya yang dilansir pada Kamis (14/12/2017).

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dilaporkan akan memimpin sebuah pertemuan khusus Dewan Keamanan PBB untuk membahas program nuklir dan rudal Korea Utara. Sementara KCNA menggambarkan pertemuan tersebut sebagai “tindakan putus asa yang diprakarasai AS” pada Jumat waktu setempat.

Menanggapi perseteruan memanas, Menlu AS Rex Tillerson menyatakan tegas pihaknya siap duduk berbicara dengan Korut tanpa prasyarat apapun pada Rabu, (13/12/2017).

Pernyataan Tillerson itu disanggupi oleh Presiden Rusia Vladimir Putin demi jalan tengah keduanya.

“Itu pertanda yang sangat baik yang menunjukkan bahwa kepemimpinan AS menuju pada kesadaran akan realitas.”

“Kami percaya bahwa kedua belah pihak harus berhenti untuk memperparah situasi. Korea Utara adalah negara yang menutup diri. Cukup satu tembakan dari Korut dan konsekuensinya akan menjadi bencana besar,” tegas Putin.

Putin justru membukakan bahwa selama ini pihaknya merasa terancam oleh AS sehingga ini merupakan alasa terkuat Korut memproduksi senjata pemusnah massal demi bertahan hidup.(lpt6/r1)