Connect with us

Dunia

Dewan Keamanan Tolak Klaim Donald Trump Soal Yerusalem

Published

on

Sidang Keamanan PBB mengenai pernyataan Donald Trump soal Yerusalem

Jakarta-Geosiar.com, Pengakuan sepihak Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa Yerusalem merupakan ibu kota Israel ditanggapi oleh Dewan Keamanan PBB yang menggelar pertemuan darurat Jumat (9/12/2017) waktu AS. Rapat tersebut merupakan permintaan delapan negara anggota tentang pengakuan Trump. Hasilnya, Dewan Keamanan PBB menolak mentah-mentah pernyataan tersebut.

Menurut Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Nikolai Mladenov, dikhawatirkan terjadi eskalasi kekerasan akibat penyataan Trump soal Yerusalem itu.

“Saat ini ada bahaya nyata dari serangkaian tindakan sepihak yang kita sedang lihat yang akan membuat kita tak bisa mencapai tujuan bersama perdamaian kita,” kata Mladenov kepada Dewan Keamanan PBB.

Sementara itu, anggota delegasi Prancis menyatakan Yerusalem harus menjadi ibukota dua negara, melalui perundingan. “Masalah Yerusalem itu istimewa dan cakupannya melebihi dari sekadar wilayah Israel dan Palestina,” katanya.

Diplomat tersebut menegaskan Prancis tidak mengakui aneksasi Israel atas Yerusalem Timur dan menganggapnya sebagai bagian dari wilayah yang diduduki. Dia menyerukan penghormatan kepada hukum internasional, perlindungan solusi dua negara dan penghindaran eskalasi kekerasan.

Sedangkan duta besar Inggris untuk PBB menyatakan pihaknya terus menekan semua pihak untuk menghindari aksi yang bisa merusak perdamaian, seraya menyatakan negaranya hanya mengakui perbatasan-perbatasan Israel-Palestina sebelum Perang 1967.

Dia menyatakan Donald Trump tidak embawa manfaat bagi perdamaian Palestina-Israel. Yerusalem Timur adalah bagian dari wilayah Palestina dan menyatakan tindakan sepihak telah merusak peluang perdamaian langgeng di Timur Tengah.

Lain halnya dengan duta besar Mesir di PBB. Menurutnya, status Yerusalem sebagai kota yang diduduki tidak berubah, dan tak akan berubah meskipun ada pengakuan dari AS itu. Mesir menganggap pengakuan Trump itu berdampak sangat buruk terhadap proses perdamaian.

“Masyarakat internasional tidak mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Semua resolusi Dewan Keamanan PBB telah dimentahkan oleh pendudukan Israel di Yerusalem,” kata delegasi Mesir.

Lain pula pernyataan delegasi Swedia. Dia menegaskan implikasi masalah Yerusalem jauh melebih wilayah Timur Tengah. Dia menyebut pernyataan Trump itu berat sebelah dan bertentangan dengan posisi banyak negara.

“Eropa memiliki posisi bersama menyangkut Yerusalem sebagai ibu kota dua negara,” kata dia dalam laman Al-Arabiya. “Kami tidak mengakui keputusan Washington menganggap Yerusalem ibu kota Israel.” katanya. (Ant/R2)