Connect with us

Nasional

Rela Tinggalkan Gaji Besar, Demi Mengajar di Pelosok

Published

on

Dina Mian Sihite yang mengajar anak-anak Indonesia di pelosok memimpin upacara hari Guru di Sumatera Barat.

Jakarta-GeoSiar.com, Dina Mian Sihite lebih memilih sebagai guru yang mengabdi di pelosok dibandingkan mengajar  di sekolah swasta di Jakarta yang gajinya besar demi dapat kesempatan mengajar anak-anak Indonesia yang ada di pelosok.

Kesempatan mengajar di pelosok, menurut Mian tak ternilai dengan uang, karena pengalaman yang didapat akan membayarnya dengan lunas tuntas.

Ikut program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3T) besutan Kementerian Pendidikan, Mian berhasil lolos dari seleksi ribuan peserta.

“Dari sekian ribu pelamar itu, yang diterima cuma tiga ribu, dan gue salah satunya,” ungkap Mian pada Jumat (24/11/2017).

Mian memiliki tantangan tersendiri sebagai seseorang yang memiliki budaya dan latar belakang yang berbeda dengan lingkungan tempatnya mengajar, namun ini menjadi tantangan yang menyenangkan baginya. Bagi Mian, berada di tempat asing memiliki misi dan visi tersendiri sebagai pengajar yang dikenal dengan pahlawan tanpa tanda jasa.

Berbekal niat tulus ingin memajukan pendidikan masyarakat pelosok, Mian berusaha menepis ketakutan-ketakutan yang ada dalam dirinya.

Bersama tiga temannya sesama tenaga guru, Mian mendapat tugas mengajar di SMPN 5 Sungai Beremas, Dusun Lubuk Bontar, Jorong Pigogah Patibur, Kecamatan Sungai Beremas, Kabupaten Pasaman Barat, pedalaman Sumatera Barat. Sempat mengalami kesulitan karena latar budaya dan kepercayaan yang berbeda, akhirnya Mian lambat laun bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan tempatnya mengajar.

“Pertama kali datang bahkan gue sempet dikira mau nyebarin agama tertentu, bawa misi tertentu,” kata Mian sambil tertawa.

Selama tugasnya sebagai relawan tenaga pengajar di pedalaman Sumatera Barat itu, Mian tinggal di semacam “mess” bersama tiga orang temannya yang lain. Mess tersebut baginya tidak lebih dari kandang kambing, karena terbuat dari kayu dan hanya beralaskan tanah.

“Sempet waktu itu kepikiran untuk tinggal di sekolah aja,” ucap Mian.

Jarak desa tempatnya mengajar yang jauh dari kota jadi kesulitan lain yang harus dihadapi Mian selama tugasnya.

“Gue kesulitan beribadah, gereja cuma ada satu itu pun jauh jaraknya. Harus naik angkot yang enggak tentu datangnya kapan,” ungkap Mian.

Mian menceritakan, banyak pengalaman manis dan pahit yang didapatnya selama mengajar. Salah satu pengalaman yang sangat membekas adalah berhasil mengumpulkan uang dari masyarakat, instansi, dan lembaga untuk membuat perpustakaan permanen di salah satu daerah dekat sekolah.

“Waktu itu bisa terkumpul dua puluh lima juta, kita bikin perpus, bangunannya permanen. Kita ajak teman-teman di Jakarta waktu itu sumbang buku. Respons mereka baik. Banyak yang nyumbang, termasuk dari Pusat Bahasa,” kata Mian menceritakan.

Bagi Mian selama tugas menjadi relawan SM3T, pelajaran terpenting yang dapat diambil adalah semua orang sesungguhya bisa menjadi guru, semua orang bisa membagikan ilmu yang dimilikinya. Pemerataan pendidikan menjadi suatu hal yang perlu diperhatikan pemerintah.

“Ini semakin membuka mata gue, pendidikan di Indonesia itu belum merata, ketinggalan jauh sama yang di kota,” ungkap Mian.(lpt6/r1)