Connect with us

Nasional

Komnas Perempuan Kutuk Keras Pelaku Persekusi Dua Sejoli di Tangerang

Published

on

Ilustrasi Persekusi

Jakarta-Geosiar.com, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengutuk keras penghakiman massa yang terjadi terhadap dua sejoli di Tangerang.

“Tanpa pembuktian melalui proses hukum, masyarakat sama sekali tidak memiliki hak untuk melakukan penghukuman, penganiayaan dan pelanggaran hak orang lain yang dijamin dalam konstitusi,” kata Komisioner Komnas Perempuan Adriana Venny melalui pesan tertulis di Jakarta, Kamis.

Pasangan R (28) dan MA (20) sebelumnya digerebek di kontrakan oleh warga di Cikupa, Kabupaten Tangerang, pada Jumat (10/11/2017) malam. Warga secara brutal menelanjangi dan mengarak kedua korban di depan umum. Peristiwa penggerebekan hingga penganiayaan ini sudah termasuk main hakim sendiri atau persekusi.

Tindakan ini bertentangan dengan hak-hak yang dijamin Undang-Undang Dasar 1945 dan sejumlah Undang-Undang.Pasal 28G Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak atas perlindungan diri pribadi, kehormatan, martabat dan atas rasa aman. Menurut Adriana, perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu merupakan hak asasi.

Demikian pula dengan Pasal 28G Ayat (2) yang menyatakan setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia.

Penghakiman di luar proses hukum juga melanggar Undang-Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik.

“Karena itu, tindakan penghakiman tanpa prosedur hukum merupakan perbuatan yang melawan hukum,” kata Adriana.

Persekusi pasangan dua sejoli di Tangerang menjadi perbincangan hangat beberapa hari terakhir. Terlebih setelah ditelusuri, didapati fakta bahwa pasangan itu tidak terbukti melakukan perbuatan asusila. Warga salah paham lantaran mendapati pasangan itu berada dalam rumah kontrakan pada malam hari. (Ant/R2)