Connect with us

Dunia

Suriah Klaim Berhasil Runtuhkan Markas Terakhir ISIS

Published

on

Tentara Gabungan Suriah masuk ke wilayah ALbu Kamal

Jakarta-Geosiar.com, Pertarungan sengit antara pasukan Suriah bersama kelompok Hizbullah dari Libanon melawan pasukan ISIS berhasil dimenangkan pasukan gabungan Suriah yang ditandai dengan perebutan markas ISIS pada Rabu (8/11/2017). Suraiah mengklaim berhasil meruntuhkan kekhalifahan ISIS.

Pertahanan terbesar ISIS di Suriah, Albu Kamal diklaim telah dibebaskan dari pasukan ISIS.

“Benteng pertahanan terakhir ISIS, Albu Kamal, sudah dibebaskan dari ISIS,” ujar seorang komandan aliansi militer yang mendukung pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad, sebagaimana dikutip Reuters.

Albu Kamal disebut sebagai benteng pertahanan terakhir pasukan ISIS setelah sebelumnya ibukota ISIS di Raqqa, Suriah berhasil dihancurkan pasukan gabungan pada Oktober lalu. Albu Kalba terletak diantara perbatasan Suriah dan Irak, tepat di tepi Sungai Efrat.

Selama perebutan Albu Kamal, pasukan Suriah dibantu oleh pasukan Hizbullah asal Libanon yang masuk melalui Irak, yang kemudian mengajak Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) untuk menyeberang dan berperang ke Suriah.

“Albu Kamal dibebaskan.” ujar televisi-telivisi Suriah saat mendeklarasikan kemnangan merebut Albu kamal. Deklarasi yang dibuat setelah upaya berbulan-bulan dalam mengepung dan merebut Albu Kamal dari tangan ISIS.

Namun, kelompok pemantau Syrian Observatory for Human Rights melaporkan bahwa Albu Kamal belum benar-benar direbut karena masih ada pertempuran kecil di sana.

Juru bicara PMF, Ahmed al-Asadi, juga membantah pasukannya menerobos perbatasan menuju Suriah.

“Pergerakan kami dilaksanakan berdasarkan perintah dari komandan pasukan bersenjata dan tujuan utama kami adalah membebaskan wilayah Irak dari ISIS. Kami tidak diperintahkan untuk menyeberangi perbatasan,” katanya.

Namun pengamat mengatakan bukan berarti kelompok ISIS telah hilang kekuatan setelah Albu Kamal direbut pasukan gabungan Suriah. Mereka masih dapat memerintahkan anggotanya untuk melakukan serangan di berbagai negara lain. (CNN/R2)