Connect with us

Dunia

Arab Saudi Klaim Iran Dalang Dibalik Penembakan Rudal Pemberontak Yaman

Published

on

Rudal Pemberontak Yaman berhasil ditangkal oleh Arab Saudi pada Sabtu (4/11/2017)

Arab Saudi-GeoSiar.com, Kelompok pemberontak menembakkan roket dari Yaman melintasi perbatasan ke Arab Saudi dengan sasaran ibu kota negara itu, Riyadh pada hari Sabtu (04/11).

Putra Mahkota Mohammed bin Salman mengatakan tindakan Iran yang menyediakan rudal kepada pemberontak di Yaman dapat digolongkan sebagai aksi perang terhadap Arab Saudi.

Sejak 2015, koalisi militer pimpinan Arab Saudi memberikan dukungan kepada pemerintah Yaman dalam perang melawan pemberontak Houthi, yang bersekutu dengan Iran. Negara itu membantah telah memberikan persenjataan kepada kelompok pemberontak Houthi.

“Keterlibatan Iran dalam menyuplai rudal kepada Houthi merupakan agresi langsung oleh rezim Iran,” tegas Pangeran Mohammed bin Salman sebagaimana dikutip kantor berita Arab Saudi.

Iran, melalui Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, menanggapi tuduhan bahwa pihaknya terlibat dalam agresi melawan Arab Saudi dengan mengatakan bahwa tudingan itu

“Hal itu sangat bertentangan dengan realitas,” tegas Zarif.

Ketika berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson, Zarif mengatakan “tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh para pejabat Arab Saudi bertentangan dengan realitas dan berbahaya,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris, Bahram Qassemi.

Pada hari Senin (06/11) Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir mengatakan kepada CNN bahwa sejumlah anggota gerakan Hisbullah dari Libanon yang menjadi sekutu Iran, meluncurkan rudal. Menurut pihak berwenang, rudal berhasil ditangkal sebelum menghantam Bandara Internasional King Khalid. Suara ledakan terdengar di dekat bandara dan sejumlah pecahan rudal jatuh di sekitarnya.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Iran menegaskan peluncuran rudal itu merupakan “tindakan independen” kelompok pemberontak Houthi sebagai tanggapan atas “agresi” koalisi pimpinan Arab Saudi.(bbc/r1)