Connect with us

Dunia

Pangeran Arab Saudi Tewas dalam Kecelakaan Helikoper

Published

on

Pangeran Arab Saudi Mansour bin Muqrin tewas dalam helikopter yang jatuh saat menginspeksi beberapa wilayah di kawasan Asir pada Minggu 5 November 2017

Asir-GeoSiar.com, Helikoper yang dikendarai oleh Pangeran Arab Saudi Mansour bin Muqrin, terjatuh dan hancur saat menginspeksi beberapa wilayah di kawasan Asir pada Minggu 5 November 2017. Heli sang pangeran jatuh di Jarf Rida Nature Reserve, barat daya pegunungan Sarawat.

Kejadian ini menewaskan Pangeran Mansour beserta sembilan pejabat lainnya yang turut dalam mendampingin pengeran melaksanakan tugas sehari-harinya sebagai Wakil Gubernur Asir.

Dikutip dari Al-Arabiya, pada Selasa (7/11/2017), sejumlah foto-foto teranyar memperlihatkan hancurnya heli pangeran Arab Saudi itu.

Kejadian ini terjadi sehari setelah rudal balistik yang diluncurkan kubu Houthi di Yaman ditembakkan ke arah Bandara Riyadh, ibu kota Arab Saudi. Misil itu sebelumnya berhasil ditangkal oleh tentara keamanan Arab Saudi.

Selain itu, kematian Pangeran Mansour semakin menambah misteri karena peristiwa jatuhnya heli sehari setelah Raja Salman mengumumkan penahanan 11 pangeran dan pemecatan sejumlah menteri kecuali Pangeran Mansour.

Pangeran Mansour bin Muqrin adalah putra Muqrin bin Abdulaziz al Saud Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi yang menjabat dalam waktu singkat, Januari hingga April 2015.

Posisi Muqrin kala itu digeser oleh saudara tirinya, Salman bin Abdul Aziz al Saud yang kini menjadi Raja Arab Saudi. Muqrin menikah dengan Putri Saud bin Fahd Al Saud pada 2013 dan memiliki dua putri dari pernikahan tersebut.

Kematian Pangeran Mansour bin Muqrin terjadi di tengah penangkapan besar-besaran sejumlah pangeran dan pejabat Arab Saudi dalam kasus dugaan korupsi.

Sebelas pangeran dan empat menteri ditangkap badan antikorupsi pimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, yang baru resmi dinyatakan berdiri dalam hitungan jam.

Meski pemberantasan antikorupsi hingga level tertinggi itu didukung banyak pihak, ada juga yang mempertanyakan motif politik di balik itu.

Diduga, tindakan itu dilakukan untuk mengukuhkan posisi Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebagai pemimpin Arab Saudi selanjutnya. (lpt6/r1)