Connect with us

Dunia

ISIS Mendapat Serangan Udara AS

Published

on

Militer Amerika Serikat telah melakukan serangan udara terhadap prajurit Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS), pada Jumat (3/11/2017)

Amerika Serikat-GeoSiar.com, Militer Amerika Serikat telah melakukan serangan udara terhadap prajurit Negara Islam di Irak dan Suriah ( ISIS), pada Jumat (3/11/2017).

Serangan udara yang dilayangkan tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan militer AS di Somalia. Berdasarkan serangan tersebut diklaim telah menewaskan beberapa pejuang ISIS berdasarkan laporan dari AFP pada Sabtu (4/11/2017).

Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Komandan Komando AS Afrika (AFRICOM).

Menurut wali kota Qandala, wilayah semi-otonomi Puntland, Jama Mohamed Qurshe, enam rudal telah menghancurkan sebuah markas ISIS di desa Buqa, sejauh 60 km dari wilayahnya.

“Penduduk lokal dan penggembala terkejut dan berlari keluar dari daerah tersebut,” katanya, seperti ditulis VOA.

Menanggapi serangan tersebut, Juru bicara AFRICOM, Anthony Falvo mengatakan, tidak ada warga sipil yang berada di sekitar wilayah serangan.

“Militer telah menyerang target yang diincar,” kata Anthony.

Serangan pertama terjadi sekitar tengah malam waktu Somalia, dan hantaman rudal kedua pada pukul 11.00 waktu setempat.

Dalam beberapa bulan terakhir, AS telah berulangkali menyerang pemberontak Somalia yang berasal dari kelompok Shabaab. Kelompok itu masih memiliki ikatan dengan Al Qaeda.

Namun, serangan rudal pada Jumat lalu dinilai sebagai langkah signifikan dalam perang melawan ISIS.

“Pasukan AS akan terus menggunakan semua tindakan yang tepat untuk melindungi orang Ameruka dan menghentikan ancaman teroris,” ujarnya.

Sebelumnya, ISIS telah mengklaim serangan bunuh diri di Somalia pada Mei 2017. Serangan bom itu menewaskan sedikitnya lima orang. Aksi itu mengawali aktivitas Shabaab di wilayah tersebut.

Kelompok militan tersebut dipimpin oleh mantan ulama Shabaab, Abdiqadir Mumin. Mantan anggota kelompok Al Qaeda ini kemudian berpindah ke ISIS pada Oktober 2015.

Mumin lagir di Puntland dan tinggal di Swedia, sebelum akhirnya pindah ke Inggris pada 2000-an dan memperoleh kewarganegaraan Inggris.(Kps/r1)