Connect with us

Sumut

Kampanye Anti Kriminalisasi Melalui Pemutaran Film ‘Suara dari Jalanan’

Published

on

Bedah film 'Suara dari Jalanan' oleh Diana Saragih dimoderatori oleh Jhon Fawer Siahaan, Manager Riset RKI

Medan-GeoSiar.com Diana Saragih alias Djeni Buteto berhasil merilis film dokumenter dengan judul “Suara Dari Jalanan” yang di tampilkan pada Sabtu (28/10/2017) pukul 14.30 di Gedung Pameran Taman Budaya, Jl. Perintis Kemerdekaan Medan.

Pemutaran film ini merupakan rangkaian acara dari Jong Batak’s Arts Festival oleh Rumah Karya Indonesia (RKI) yang telah berlangsung dari tanggal 25 Oktober hingga 28 Oktober 2017 di Taman Budaya Medan.

Film ini mulai di garap pada bulan Agustus 2017 yang lalu dan masih dalam proses penggarapan untuk dapat menjadi sebuah film dokumenter yang sempurna dan dapat dinikmati oleh semua kalangan.

“Film ini sebenarnya belum sepenuhnya selesai dan masih dalam proses penggarapan, tetapi sengaja di putar dalam momen Hari Sumpah Pemuda di tanggal 28 Oktober ini untuk membangkitkan semangat para pemuda,” ujar Diana seusai sesi pemutaran film perdananya di Taman Budaya Medan yang didinikmati oleh beberapa siswa dan mahasiswa serta pendatang dari kalangan umum.

Pada sesi diskusi, Diana menjelaskan proses pembuatan film dokumenter yang berjudul ‘Suara dari Jalanan’ yang mulai digarap pada bulan Agustus 2017 yang lalu.

Pembuatan dilm dokumenter ini berawal dari keprihatinan Diana terhadap penegakan hukum yang berat sebelah terhadap pemuda khususnya mahasiswa. Film ini beranjak dari banyaknya kasus yang menimpa mahasiswa dalam beberapa waktu belakangan.

“Miris sekali bahwa penegakan hukum di Indonesia yang terjadi dikalangan mahasiswa tidak dapat ditegakkan dengan semestinya. Dalam pemberitaannya di media juga banyak yang tidak seimbang,” ujarnya sambil menjelaskan latar bekang pembuatan film dokumenter.

Menurut Diana, peran media dalam pemberitaan kurang berimbang. Kebanyakan reporter seolah menyudutkan mahasiswa yang mulai menyuarakan aspirasi mereka di jalanan.

“Media selama ini tidak berimbang dalam memberitakan aksi mahasiswa. Reporter juga malas menggali berita padahal media seharusnya bisa memframe berita dengan baik,” ujarnya.

Kompetensi media yang berperan sebagai cover bothside menurutnya harus mampu diterapkan agar mampu menetralisir keadaan. Diana juga menyarankan agar media membekali para reporter dengan diklat dan pelatihan jurnalistik untuk mampu menggali lebih dalam suatu berita sebelum dibagikan kekhalayak luas, sehingga stigma yang terbentuk di dalam masyarakat cenderung ke dituntun ke arahlebih postif.

“Media jangan jadi racun bagi perkembangan dalam masyarakat, sehingga masyarakat menganggap bahwa aksi mahasiswa adalah aksi yang sering berakhir ricuh, membuat kemacetan, membakar ban dan kericuhan yang lainnya,” tandasnya.

Selain itu, melalui film yang masih dalam proses penggarapan ini, Diana ingin mengkritisi pemerintah dalam hal penegakan hukum. Menurutnya hukum di Indonesia belum sepenuhnya ditegakkan dengan baik.

Kasus yang menimpa 4 mahasiswa pada bulan Mei yang lalu yakni Erlangga, Vikri, Fadel dan juga Siermensen merupakan salah satu contoh penegakan hukum yang tidak berimbang. Menurutnya mereka merupakan korban dari berat sebelahnya hukum karena berdasarkan putusan dari pengadilan dinilai tidak kuat karena bukti yang belum lengkap dan konkret. Namun walaupun demikian, mereka masih dalam penahanan polisi walaupun belum terbukti bersalah.

“Saya ingin memberikan informasi yang berimbangan di dalam masyarakat melalui film ini. Saya ingin film dokumenter ini dapat dijadikan alat untuk memberikan suatu pencerahan pemikiran yang dapat menjangkau semua pihak baik masyarakat, pemerintah khususnya para penegak hukum mulai dari pihak kepolisian, para jaksa dan para hakim,” ujarnya optimis.

Diana berharap melalui metode riset, penulisan naskah, pengeditan hingga penciptaan film di dalam pembuatan film dokumenter ini dapat menjadi suatu kampanye anti kriminalisasi mahasiswa. Mahasiswa yang sejatinya sebagai roda penggerak perubahan dan menyuarakan aspirasinya untuk menyuarakan hati rakyat diharapkan dapat di terima dan didukung oleh masyarakat.

Melalui film ini masyarakat diharapkan dapat menyadari peran mahasiswa yang memiliki pengaruh kuat untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Semoga melalui film ini saya bisa menunjukkan bahwa peran mahasiswa sangat besar saat turun ke jalanan dalam menyuarakan suara rakyat karena ini bagian dari triologi perguruan tinggi, yaitu pengabdian pada masyarakat. Film ini adalah alat yang paling efektif untuk membukakan pemikiran semua kalangan di dalam masyarakat tentang mahasiswa,” tutupnya. (CW1)