Connect with us

Nasional

Akankah Ahok Kembali Berpolitik?

Published

on

Basuki Tjahaja Purnama yang telah di tahan sejak 9 Mei 2017

Jakarta-GeoSiar.com, Ignatius Haryanto, satu dari sepuluh penulis buku “Kami Ahok” yang mengunjungi Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat pada Selasa, (24/10/2017).

Ahok yang telah divonis dua tahun penjara pada 9 Mei 2017, oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena kasus penodaan agama semakin terlihat sehat dan bugar.

Pertemuan ini tidak dapat berlangsung lama karena jam berkunjung sangat dibatasi oleh petugas yaitu dari pukul 13.10 hingga 13.50 WIB.

Selain membicarakan tentang buku, Ahok turut berbagi pengalamannya selama di tahanan yang diisi dengan berolah raga, menulis, hingga belajar Bahasa Mandarin.

Kesempatan yang singkat ini dimanfaatkan Ignatius untuk menanyakan kepada Ahok tentang keinginannya untuk kembali ke dalam dunia politik ketika masa penahanannya selesai.

“Banyak orang pada nanya ke gua, apa nanti gua akan balik ke politik lagi apa enggak? Gua susah kalau jawab pertanyaan begitu. Biasanya yang nanya gitu, gua kasih cerita soal Sun Tzhu,” demikian ucapan Ahok yang ditulis oleh Hary dikutip dari Kompas.com.

Ahok tidak langsung memberikan jawaban ya atau tidak melainkan memberikan suatu cerita tentang Sun Tzhu. Saat itu, Ahok menceritakan kisah dari tokoh bernama Sun Tzhu, seorang jenderal dari Cina sekaligus ahli strategi militer dan filsuf pada masa Cina kuno. Kala itu, ada seorang bangsawan yang bertanya kepada Sun Thzu, apakah dia perlu mengabdi kepada negara.

“Sun Tzhu hanya menjawab, hasrat itu harusnya datang dari hasrat untuk mengabdi bagi negara, pada pemerintah,” sebut Ahok dalam tulisan Hary.

Setelah menjelaskan hal itu, Ahok menutup pertemuan tersebut dengan menyinggung sedikit mengenai integritas. Ucapan Ahok soal itu tidak dijelaskan lebih lanjut karena petugas jaga telah mengingatkan waktu kunjungan sudah melewati batas yang seharusnya.

“Dan ia menutup pembicaraan tadi dengan kalimat begini: ‘Integritas itu bisa dibuang, tapi tak bisa dicuri…’ Kalimat bersayap ini entah kepada siapa ia tujukan,” tutup Hary.