Connect with us

Dunia

Indonesia Dapat Apresiasi Dalam Persoalan Rohingya

Published

on

Para pengungsi Rohingya

Medan,GeoSiar.com, Pemerintah Indonesia mendapat apresiasi atas peran aktif dalam merespons situasi di Rakhine State dengan mengedepankan diplomasi dan dialog dalam menyelesaikan persoalan Rohingya. Hal itu disampaikan Menteri Negara untuk Asia dan Pasifik, Kantor Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris, Mark Field di Lancaster House, Stable Yard St, James, London.

Apresiasi disampaikan langsung saat berjumpa Wakil Presiden RI M. Jusuf Kalla dalam resepsi peringatan ASEAN ke-50. Demikian ata Penerangan Sosial dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (Pensosbud KBRI) London Dethi Silvidah Gani, Kamis (12/10), Seperti dilansir dari antaranews.com.

Wapres Kalla mengemukakan krisis yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, juga menjadi perhatian bagi pemerintah dan publik Inggris.

Wapres menyampaikan bahwa pendekatan strategis Indonesia dengan Pemerintah Myanmar telah berhasil membuka jalur bantuan kemanusiaan.Oleh karena itu, Wapres Kalla menyatakan Indonesia dan Inggris juga dapat bekerja sama dalam mencari solusi yang terbaik bagi persoalan yang terjadi di Rakhine State.

Secara umum orang berpendapat, krisis Rohingya di Myanmar adalah masalah agama. Tetapi menurut Kepala bidang penelitian pada South Asia Democratic Forum, Siegfried O Wolf, krisis ini lebih bersifat politis dan ekonomis. Dari sisi geografis, penduduk Rohingya adalah sekelompok penganut Muslim yang jumlahnya sekitar satu juta orang dan tinggal di negara bagian Rakhine. Wilayah Rakhine juga ditempati oleh masyarakat yang mayoritas memeluk agama Budha. Rakhine dikenal sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Tetapi hal itu menjadi timpang ketika pada kenyataannya tingkat kemiskinan di sana ternyata tinggi.

Atas peran Indonesia dalam perselesaian masalah Rohingya, dan membuka jalur bantuan kemanusiaan. Menteri Mark Field sampaikan apresiasinya. Dalam konteks bilateral, Mark Field juga menyampaikan harapannya untuk meningkatkan hubungan kerja sama Indonesia-Inggris di berbagai bidang, termasuk perdagangan dan investasi, pertahanan dan pendidikan.

Perihal ini juga diamini oleh Wapres Jusuf Kalla. “Inggris memandang Indonesia sebagai mitra penting, terlebih lagi setelah Inggris keluar dari Uni Eropa atau Brexit,” demikian Jusuf Kalla menerangkan.

Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson dalam resepsi itu juga menemui Wapres Jusuf Kalla, dan mengapresiasi peran Indonesia di kawasan ASEAN sekaligus menegaskan komitmen Inggris untuk meningkatkan hubungan dengan ASEAN. Boris Johnson menyambut baik peningkatan jumlah pelajar Indonesia di Inggris, termasuk yang mendapat beasiswa kedua pemerintah, baik dalam program Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) Pemerintah RI maupun Chevening Award dari Pemerintah Inggris.

Inggris merupakan mitra dagang keempat terbesar bagi Indonesia dari negara-negara Eropa dengan nilai 2,48 miliar dolar AS pada tahun 2016. Dalam hal investasi, Inggris menempati urutan ke-13 investor terbesar di Indonesia dengan nilai 306 juta dolar AS pada tahun 2016. Pada tahun 2016, terdapat sekitar 42.000 WNI yang berkunjung ke Inggris.

Sebaliknya, Inggris merupakan negara Eropa penyumbang wisatawan terbesar ke Indonesia dengan 328.000 orang pada tahun 2016. Pada 2016, jumlah pelajar Indonesia bersekolah di Inggris mencapai 4.700, termasuk 2.303 orang penerima beasiswa LPDP.

Sumber : Antaranews.com