Connect with us

Nasional

Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar Membantah Pernyataan Eggi Sudjana tentang Trinitas Kristen

Published

on

Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar yang membantah pernyataan Eggi Sudjana tentang Trinitas Kristen

Jakarta-GeoSiar.com, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar yang merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta mengungkapkan kebesaran hatinya untuk menerima perbedaan yang terjadi antar umat beragama di indonesia. Nasaruddin memberikan pernyataan bahwa konsep Trinitas atau Tritunggal dalam ajaran Agama Kristen sama sekali tak bertentangan dengan Pancasila, terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pernyataan Nasaruddin Umar yang telah tersebar dan menjadi viral di media sosial ini sekaligus mampu menyanggah ucapan pengacara Eggi Sudjana yang menyebut Agama Kristen, Hindu dan juga Budha, bertentangan dengan nilai Pancasila, terutama sila pertama, sehingga harus dibubarkan.

Dalam pernyataan Eggi beberapa waktu lalu yang membuat perbantahan adalah selain Islam, agama lain bertentangan dengan Pancasila karena Kristen Trinitas, Hindu Trimurti, dan sepengetahuan Eggi ajaran Budha tidak punya konsep Tuhan, kecuali dengan proses Amitaba dan apa yang diajarkan oleh Sidarta Gautama.

Menurut Nasaruddin dilansir dari tagar.id, Doktrin Trinitas atau Tritunggal dalam agama Kristen sama sekali tidak ber­benturan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa. Doktrin Trinitas meng­gambarkan Satu Tuhan da­lam tiga pribadi (one God in three Divine Personsthree), yaitu Bapa, Anak (Yesus Kris­tus), dan Roh Kudus.

Tiga konsubstansi tersebut dapat dibedakan, namun tetap merupakan satu substansi yang tidak terpisahkan. Doktrin Trini­tas tidak secara eksplisit dalam Kitab Suci tetapi Kitab Suci memberikan kesaksian tentang kegia­tan suatu pribadi yang hanya dapat dipahami dari segi Trinitaris. Tidak heran jika doktrin ini memi­liki bentuk pembenarannya lebih luas pada akhir abad ke-4. Dalam Konsili Lateran IV dijelaskan: “Allah yang memperanakkan, Anak yang diper­anakkan, dan Roh Kudus yang dihembuskan”. Meskipun memiliki “tiga pribadi” tetapi tetap satu sesuai dengan yang diyakini oleh umat Kristiani.

Logika doktrin Trinitas menurut Nasaruddin sesungguhnya bisa di­jelaskan melalui logika Ahadiyah-Wahidiyah da­lam teosofi Islam, Ein Sof-Sefirod dalam Kabba­la Yahudi, Atma-Brahma dalam agama Hindu, Yang-Yin dalam teologi Taoisme. Sesuatu yang berganda atau berbilang tidak mesti harus dipertentangkan dengan konsep keesaan. Kon­sep Asma’ al-Husna berjumlah 99 tidak mesti bertentangan dengan keesaan Allah Swt.

Nasaruddin menambahkan penjelasan dengan perumpamaan yang dapat dengan mudah dipahami oleh semua orang termasuk oleh umat beragama tanpa terkecuali. Nasaruddin memberikan perumpamaan tentang seorang muslim yang mendebat seorang pendeta dengan mempertanyakan konsep keesaan Tuhan dengan kehadiran Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Sang pendeta mengatakan, kami masih mending karena hanya tiga, bagaimana dengan Islam yang Tuhannya berjumlah 99. Lalu dengan tegas dijawab bahwa 99 nama itu tetap Tuhan Yang Maha Ahad itu. Lalu pendeta menjawab, apa bedanya dengan agama kami yang tiga itu tetap yang satu itu.

Lalu Nasaruddin memberikan analogi yang lainnya tentang seorang murid yang bertanya ke mursyid (guru spiritual), tentang saudaranya yang beragama Kristen yang mengaku berketuhanan YME tetapi memiliki doktrin Trinitas, atau saudaranya yang beragama Hindu memiliki doktrin Trimurti.

Sang mursyid menjawab, di situlah ke­lirunya mereka karena membatasi Tuhan hanya tiga, padahal semua yang ada adalah Dia, tidak ada yang ada (maujud) selain Dia. Sang mursy­id mengutip sebuak ayat: Wa lillah al-masyriq wa al-magrib fa ainama tuwallu fa tsamma wajh Al­lah (Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. al- Baqarah/2:115).

Setelah mendengarkan panjang lebar penjelasan mursyid barulah murid itu lega. Akan tetapi kembali bertanya, kalau saudara kita tadi keliru karena hanya membatasi Tuhan han­ya tiga, bagaimana dengan saya yang hanya membatasi Tuhan hanya satu?

Sang mursyid menjawab: Sesungguhnya mungkin tidak ada yang salah, termasuk anda, karena yang banyak itu ialah yang satu itu dan yang satu itulah yang memiliki wajah yang banyak (al-wahdah fi al-katsrah wa al-katysrah fi al-wahdah/the one in te many and the many in the one). Dari pernyataan mursyid tersebut dapat disimpulkan bahwa masing-masing agama memiliki konsep yang berbeda namun satu tujuan dalam penyembahan, yaitu kepada Tuhan Yang Esa.

Bagi umat Kristiani doktrin Trinitas sama sekali tidak mengganggu konsep kemahaesaan Tuhan dan Ketuhanan YME. Hanya orang-orang luar Kristen sering sulit mema­hami Tuhan mempunyai anak, karena dalam benak masyarakat kata “Anak” masih selalu di­hubungkan dengan anak biologis. Padahal dalam Bahasa Arab kata “Ibn” atau “Son” dalam Bahasa Inggris tidak selamanya berarti anak biologis. Kata “anak” bisa berarti simbol kedekatan atau representatif, seperti kata “anak-anak Indonesia di luar negeri” berarti anak-anak yang menampilkan ciri khas dan karakteristik bangsa Indonesia.

Seorang anak lebih mencirikan karakter bapaknya sehingga sering diistilahkan “anak bapaknya”. Begitu dekatnya hubungan dan banyaknya persamaan sifat dan karakter seseorang dengan sesuatu sering diistilahkan anak dari sesuatu itu. Persoalan semantik sering kali menjadi faktor penyebab terjadinya perbedaan mendasar, bahkan menjadi sumber konflik.

Pernyataan yang mendasar dan memiliki makna mendalam dari berbagai referensi yang dikemukakan oleh Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar sekaligus membuka pemikiran seluruh masyarakat yang kurang memahami arti perbedaan dalam hidup berdampingan.