Connect with us

Nasional

Kementerian Informasi dan Komunikasi dan KWI Sukses Selenggarakan Seminar Literasi Media di Medan

Published

on

Medan-GeoSiar.com, Pastor Karmilus Panthus, Sekretaris Komisi Sosial (Komsos) Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mewakili Kementerian Informasi dan Komunikasi, membuka acara Forum Dialog dan Literasi Media Sabtu, (7/10/2017) di Catolic Center pukul 13.15 WIB.

Rangkaian acara ini diawali dengan menyanyikan lagu pembuka, Indonesia Raya dan diisi dengan beberapa kata sambutan, sesi pembahasan dan misa penutupan pada Minggu (7/10/2017) pukul 12.00 WIB.

Ketua panitia penyelenggara, Ananta Politan Bangun SS, wakil dari Informasi dan Komunikasi Komsos Keuskupan Agung Medan (KAM) menyambut baik kedatangan para narasumber dan KWI pusat melalui kata sambutan hangat yang di gemakannya. Sambutan hangat juga di sampaikan oleh Pastor Alexander Silaen, OFM. Cap selaku pastor moderator Komisi Kepemudaan (Komkep) KAM.

Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit MSC MBA MA MP Hil MIT, pakar teknologi berbakat yang merupakan narasumber berbagai seminar nasional, turut hadir dalam acara literasi ini. Seorang akademisi sekaligus penulis puluhan judul buku dan ratusan jurnal ilmiah tingkat nasional maupun internasional ini mampu menyedot perhatian para peserta seminar dengan pembawaannya yang sederhana dan kocak sehingga acara sesi berlangsung 2 arah.

Menurut Eko dalam sesi pertama yang disampaikannya, sifat sebuah internet pada umumnya adalah netral, tetapi tergantung pihak yang mengelolahnya, jika banyak pihak yang mengisinya mampu membuat sesuatu yang postif tentunya internet akan dipenuhi oleh hal yang positif, namun sebaliknya, jika ada beberapa pihak yang mengisinya dalam konten negatif maka media tersebut akan berisi konten negatif.

Semua sangat tergantung dari manusia yang menggunakan teknologi yang ada sebab manusia adalah pihak yang menciptakan teknologi itu sendiri dan tentunya berwenang untuk mengatur perkembangannya.

Narasumber selanjutnya merupakan seorang pakar yang sangat mendalami isu radikal dan keamanan di masyarakat yaitu Brigadir Jendral Martinus Hukom S.IK. Melalui sesi yang dibawakannya, Martinus mengajak generasi milenial yang merupakan pengguna aktif sosial media untuk dapat berperan dalam meningkatkan keamanan di masyarakat melalui media sosialnya masing-masing.

Tidak berhenti sampai disitu, Hendrasmo dan Margaret yang juga narasumber nasional juga turut membawakan sesi yang semakin menyadarkan kaum muda tentang perannya yang sangat dibutuhkan di era perkembangan teknologi seperti sekarang.

Proses untuk berkreasi, memproduksi kreasi dan juga penyebaran konten dari hasil kreasi merupakan hal yang sangat penting untuk dikemas dengan baik melalui teknik framing. Langkah ini dipaparkan secara lebih rinci oleh Margaret yang berlatar belakang sebagai praktisi dibidang informasi dan komunikasi serta penulis. 

Kegiatan ini tidak berhenti pada teori belaka, namun juga ada praktek nyata yang dilakukan oleh para peserta yang dipandu dengan panitia penyelenggara, Hendri Fernando Pasaribu.

Seluruh peserta yang menginap selama satu malam di lokasi kegiatan diberikan tugas untuk membuat meme dan video yang berisi konten positif sebagai bentuk pastisipasi nyata dari kegiatan ini dan akan dikumpulkan keesokan harinya.

“Kami dari KWI mengusahakan agar pemerintah dari Kementrian Komunikasi dan Informasi mengadakan acara ini selama dua hari satu malam. Untuk agama yang lainnya dicanangkan hanya 1 hari yaitu pukul 8 sampai 5 sore dengan teori literasi, tetapi menurut saya itu kurang efektif kalau peserta tidak langsung mempraktekkannya. Maka kami dari KWI mengusahakan agar pemerintah menyetujui, khusus untuk Katolik dilaksanakan 2 hari 1 malam. Puji Tuhan terlaksana, ” ujar Pastor Karmilus Panthus kepada wartawan GeoSiar.

Acara yang berlangsung sukses selama 2 hari 1 malam ini tidak terlepas dari kerjasama yang baik antar Komsos KWI pusat dan Medan, Komkep KAM dan Bimbingan Masyarakat (BIMAS) Katolik Medan.

Isu Literasi Media Sosial yang diangkat dalam acara ini dihadiri sebanyak 103 orang peserta yang berasal dari perwakilan Komisi Kepemudaan, Komkep, Komsos dan gabungan dari beberapa Organisasi Masyarakat Katolik seperti Ikatan Sarjana Katolik (ISKA), Pemuda Katolik (PK) dan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).

Medan merupakan daerah ke 3 yang menjadi kota tujuan dilaksanakannya Forum Dialog dan Literasi Media di Indonesia setelah Jakarta dan Malang beberapa waktu lalu. Tercatat sebanyak 7 kota yang merupakan sasaran dari kegiatan ini, dimana kota tersebut merupakan kota dengan titik terbesar penggguna media sosial di Indonesia yaitu Jakarta, Malang, Medan, Bandung, Manado, Kupang dan Semarang.

Melalui seminar yang beralaskan keagamaan ini, pemerintah ingin merangkul masyarakat beragama, khususnya kaum muda untuk lebih menyadari perannya sebagai generasi milenial yang mampu menyangkal isu hoaks dan gerakan radikal yang sedang marak terjadi di dalam masyarakat.

Belakangan ini, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak konflik yang timbul di dalam masyarakat karena terpancing dengan hoaks yang dikonsumsi secara massal tanpa disaring kebenarannya dan sumbernya.

Harapannya melalui acara ini kaum muda bisa melek dalam bermedia, kritis menilai konten berita, dan juga memiliki kemampuan dalam membuat sebuah karya yang memuat konten positif dengan menggunakan media sebagai sarana penyebarannya.

“Harapan saya, melalui kegiatan ini kaum muda bisa berbuat sesuatu, seperti halnya bola salju, yang dimana saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya untuk hal yang positif, ujar Ananta Minggu (2/10/2017).

Melalui kegiatan ini, Ananta berharap anak muda bisa mendapatkan wadah yang tepat dan dijadikan sebagai sarana pengembangan diri ke arah yang lebih baik. Tentunya melalui postingan baik berupa karya di media sosial, anak muda dapat lebih mengekspresikan dirinya sebagai kaum muda yang peduli akan nasib bangsa dan negaranya.

Harapan itu juga dikuatkan oleh Pastor Karmilus yang ingin kaum muda berkaya nyata menjadi garam dan terang melalui media sosial. Ia berharap kegiatan ini tetap berlanjut dan mampu membangun jejaring antar kota dan saling menghasilkan karya nyata khas Orang Muda Katolik (OMK).

Kaum muda juga diharapkan dapat melakukan pertemuan rutin, minimal 1 kali dalam sebulan untuk dapat saling mengisi dan memperkaya setiap karya yang akan di posting melalui media sosial secara berkelanjutan.