Connect with us

Nasional

Jasa Ahok untuk Jakarta

Published

on

Medan-GeoSiar.com, Jelang akhir jabatannya, Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat terus berkeliling menemui warga.

Dalam kegiatan tersebut, Djarot meresmikan beberapa program pemerintah. Dalam kesempatan itu, Djarot selalu mengingatkan warga DKI atas kontribusi Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam membangun Jakarta.

Seperti dilansir pada Liputan6.com ada beberapa program yang dirintis oleh Ahok untuk Jakarta:

1. Bedah Rumah

Misalnya, saat meresmikan dan menyerahkan kunci rumah secara simbolik pada 67 warga Cilincing, Jakarta Utara yang sudah selesai dibedah.

Di sana, Djarot mengingatkan warga DKI bahwa bedah rumah adalah gagasan Ahok dan dirinya pada April lalu.

“Program bedah rumah ini digagas Pak Basuki Tjahaja Purnama. Ini tidak dapat selesai tanpa bantuan swasta,” kata Djarot di Cilincing, Kamis 28 September 2017.

Semula, kata Djarot, rumah yang mendaftar untuk dibedah sebanyak 83 rumah, namun setelah diseleksi hanya 67 yang layak untuk dibedah oleh program CSR beberapa perusahaan swasta.

“Saya ucapkan selamat, tolong dijaga jangan dikontrakkan,” kata Djarot.

2. Ancol Gratis

Rencana Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menggratiskan tiket masuk pantai Ancol akhirnya terlaksana.

Usai bertemu Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol di Balai Kota, Djarot menyebut pihak Ancol sepakat untuk uji coba tiket gratis pada 14 Oktober mendatang atau hari terahir masa aktif Djarot sebagai gubernur.

Djarot menyebut, rencana menggratiskan masuk Ancol sudah ada sejak era Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok saat jadi Gubernur DKI.

“Ini sebetulnya sudah dibicarakan lama sama Pak Ahok waktu itu. Kemudian Pak Tjahjo Kemendagri juga pernah berkomentar masalah ini, makanya kemarin sudah kita undang direksinya,” kata Djarot di Balai Kota Jakarta, Rabu (20/9/2017).

Untuk menutup biaya masuk yang digratiskan, Djarot menyarankan agar tarif parkir dinaikkan. “Nanti parkirnya dipermahal,” katanya.

Meski digratiskan, Djarot mengatakan, Ancol tetap dijaga dan memiliki pintu gerbang. “Tetep ada gate ada,” ucap dia.

3. Teringat Ahok di Kalijodo

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat meresmikan Patung Menembus Batas dan masjid Al-Mubarokah di RPTRA Kalijodo, Selasa malam.

Djarot menyebut, Patung Menembus Batas yang terdiri dari empat segmen pecahan Tembok Berlin dan 14 figur manusia baja itu sebagai ikon baru Kalijodo.

“Ini ikon baru di Kalijodo bersamaan dengan Masjid Al-Mubarokah ini juga jadi ikon karena arsitekturnya khas. Ini cukup lengkap, penuh dengan pesan sarat makna,” ujar dia.

Mantan Wali Kota Blitar itu mengatakan, ikon baru Kalijodo itu bermakna bila cahaya rembulan tidak pernah padam.

“Rembulan tetap bercahaya, tetap bersinar terang menembus nurani kita semua. Jangan kemudian mengorbankan Indonesia yang besar ini dengan ambisi-ambisi,” jelas dia.

Djarot mengaku, tiap membahas Kalijodo dirinya selalu teringat keberanian Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat memutuskan membersihkan lokalisasi dan menggantinya dengan taman.

“Selalu teringat (Ahok) dong, karena di sini merupakan bukti keberanian Pak Ahok dan kecepatan dia memutuskan. Sampai saya berlari-lari menyesuaikan Kalijodo yang dulu gelap gulita, Kalijodo yang dulu maaf, penuh kemaksiatan,” tandas Djarot.

4. Saat Mendapat Penghargaan

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mendapatkan penghargaan Manggala Karya Kencana dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Djarot menilai, penghargaan ini tidak hanya karena kerja kerasnya, namun ada peran Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok saat masih menjabat.

“Apa yang kita terima saat ini juga tidak boleh dilepaskan dari apa yang sudah dikerjakan oleh Pak Jokowi sebagai gubernur DKI Jakarta 2012 dilanjutkan dengan Pak Basuki Tjahaja Purnama dan sekarang saya diberikan kesempatan yang tinggal setengah,” kata Djarot saat memberikan sambutan di Balai Kota, Jakarta.

Dia mengatakan, keberhasilannya merupakan satu proses ini tidak boleh terpotong satu sama lain karena menjadi satu kesatuan. Apa yang telah dicapai sekarang ini sebagai landasan untuk melangkah ke depan yang lebih baik lagi.

Salah satu program unggulan yang menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia adalah pembangunan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). RPTRA merupakan wadah yang baik untuk anak-anak berbakat demi menyiapkan masa depan mereka.

“Sekarang ini saya melihat tadi penampilan tarian yang sangat ceria, kita berdosa kalau tidak benar-benar memberikan satu wahana, wadah pembinaan yang bagus kepada anak-anak yang sangat berbakat, yang sangat ceria, dan punya masa depan yang lebih cerah di kemudian hari,” imbuh dia.

Djarot ingat betul ketika pertama kali bertugas di Jakarta selalu diingatkan oleh Ahok tentang pentingnya kehadiran RPTRA di tengah masyarakat. Pada awal pembangunan, ada 6 RPTRA hasil CSR PT Jaya Konstruksi. Dari situlah RPTRA terus berkembang hingga 186 unit.

“Apa yang kita capai sekarang ini bukan ujug-ujug langsung, tapi melalui uji coba. Pentingnya keluarga ini ketemu bisa berbagi, pentingnya kita bisa memberikan satu wahana supaya masyarakat bisa bekerja sama di situ bisa menggali ada keterampilan, pelatihan,” tutur dia.

5. Permintaan Maaf Atas Nama Ahok-Djarot

Tiga pekan menjelang lengser, Djarot menyampaikan permintaan maafnya atas nama Ahok-Djarot pada warga Jakarta.

“Kami mohon didoakan, kami mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila saya bersama-sama dengan Pak Ahok ketika memimpin Jakarta ada khilaf ada salahnya,” kata Djarot di Balai Kota Jakarta, Sabtu 23 September 2017.

Djarot mengatakan, setiap pemimpin adalah manusia biasa yang tentu memiliki kekurangan. Oleh karena itu, dia meminta maaf.

“Pak Ahok dan saya sudah bekerja keras untuk Jakarta, biarkan nanti yang menilai masyarakat Jakarta, nanti yang menikmati warga Jakarta dan Indonesia tanpa membeda-bedakan,” kata dia.

Mantan Wali Kota Blitar itu lantas mengucapkan terima kasih atas nama Ahok-Djarot selama menjabat di Pemprov DKI Jakarta.

“Dukungan yang kalian berikan kepada kami sungguh sangat luar biasa dan semuanya ditujukan untuk memajukan kota Jakarta yang sama-sama kita cintai. Jadi kita semua ini bersaudara, satu bangsa satu tanah air, tidak boleh ada yang diskriminasi atas nama apa pun,” tandas Djarot.